PLTSa Bekasi Dinilai Paling Siap Beroperasi Dibanding Wilayah Lain

Berdasarkan Perpres itu ada 12 kota dan satu Provinsi yakni DKI Jakarta, cuma dari semua itu baru Kota Bekasi yang paling siap,

PLTSa Bekasi Dinilai Paling Siap Beroperasi Dibanding Wilayah Lain
Warta Kota
PLTSa Sumur Batu 

Presiden Direktur PT Nusa Wijaya Abadi (NWA), Tenno Sujarwanto mengatakan, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sumur Batu di Kota Bekasi lebih siap pengoperasiannya dibandingkan 12 wilayah lainnya.

Ada 12 wilayah yang masuk dalam percepatan pembangunan instalasi Pengolah sampah menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan pada PerpresPeraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

12 lokasi wilayah percepatan itu, yakni Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta; h. Kota Surabaya, Kota Makassar, Kota Denpasar, Kota Palembang, dan Kota Manado.

"Berdasarkan Perpres itu ada 12 kota dan satu Provinsi yakni DKI Jakarta, cuma dari semua itu baru Kota Bekasi yang paling siap, karena alatnya sudah ada dan mampu membuktikan bahwa sampah bisa menghasilkan tenaga listik. Untuk yang lain belum ada. Kalau ini segera terwujud bakal jadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia," kata Tenno, Senin, (11/2/2019).

Ia menjelaskan pengembangan PLTSa di wilayah lainnya tidak seperti di Kota Bekasi yang telah lebih dahulu memiliki alatnya.

"Kita sejak dijadikan pihak ketiga pengelola PLTSa oleh Pemkot Bekasi, kita sudah ada alatnya bahkan sudah beberapakali running. Terakhir kita uji coba 5-6 Februari lalu full 24 jam. Hasil sangat memuaskan dengan berhasil memenuhi target bahkan melebihi target yang diharapkan Pemkot Bekasi," ungkapnya.

Ia menjelaskan saat ini PLTSa Sumur Batu saat ini hanya tinggal menunggu hasil studi kelayakan (Feasibility Study/FS) yang akan dinilai oleh pihak PLN. Hasil studi kelayakan itu nantinya akan dijadikan acuan pembuatan power purchase agreement (PPA) dengan PLN selaku pihak yang diamanatkan dalam Perpres untuk membeli listrik hasil produksi PLTSa.

"Hasil FS nanti bakal jadi penilaian PLN, apakah sesuai ketentuannya. Kalau sesuai nanti akan mendapatkan sertifikat laik operasi (SLO) dari PLN, ketika sudah dapat SLO baru nanti penandatangan PPA," jelas dia.

Saat ini, PLTSa yang ia kembangkan berkapasitas 1,5 juta watt. Mesin pembangkit itu sudah dapat mengolah 3,3 ton sampah anorganik sisa atau refuse derived fuel (RDF) setiap satu jam. Sampah tersebut dimusnahkan dengan suhu diatas 1.000 derajat celcius sehingga sudah ramah lingkungan.

Kedepannya sesuai Perpres 35 tahun 2018 dibutuhkan 9 juta watt setelah nanti tanda tangan kontrak bersama PLN.

“Jadi kita sudah buktikan, 1 mesin bisa menghasilkan 1,5 juta watt. Nanti setelah kita menandatangani perjanjian dengan PLN, kita akan bangun tiga unit lagi sehingga menjadi 9 juta watt. Kita belum berani bangun semuanya karena menunggu kepastian pembeli listrik,” ujar nya. (M18)

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved