Korban Salah Tangkap dan Data Nasabah Dibuka Mencari Keadilan

Tak sekadar salah tangkap, Bank BCA juga diduga telah melanggar hak atas perlindungan data pribadi nasabah lantaran telah membuka identitas nasabah.

Korban Salah Tangkap dan Data Nasabah Dibuka Mencari Keadilan
Dokumentasi
Efrita Moreno, korban salah tangkap Kepolisian Daerah Bengkulu. 

Efrita Moreno, warga Kebun Roos, Teluk Segara, Kota Bengkulu, yang menjadi korban salah tangkap mencari keadilan.

Dia menjelaskan, dirinya dirugikan atas tindakan salah tangkap yang dialami.

Dia merasa dirugikan oleh pihak Polda Bengkulu dan Bank Central Asia (BCA) Cabang Bengkulu ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 

Karena itu dia mendaftarkan gugatan dengan nomor perkara 716/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Pst tanggal 20 Desember 2018. 

Kasus ini berawal ketika kartu ATM milik Efrita Moreno tertelan mesin ATM setelah mentransfer sejumlah uang di ATM Bank BCA KCU Bengkulu pada 14 Januari 2015.

"Besoknya, tiba-tiba pihak Kepolisian Bengkulu membawa saya ke kantor polisi. Katanya untuk kepentingan penyidikan perdagangan narkoba yang sedang dilakukan kepolisian dan kartu ATM saya yang tertelan itu dijadikan barang bukti," ujar Efrita Moreno, dalam keterangan di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Dalam gugatan yang diperoleh melalui Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, penangkapan tersebut dilakukan aparat kepolisian secara paksa tanpa menunjukkan Surat Perintah Penahanan serta tanpa melibatkan RT/RW setempat.

Kemudian pada tanggal 15 Januari 2015, aparat kepolisian juga membuat surat permohonan pembukaan informasi identitas nasabah kepada BCA Cabang Bengkulu dalam rangka penyidikan tersebut. 

Setelah mengetahui identitas Efrita, polisi memertemukan Efrita Moreno dengan tersangka kasus narkoba itu, Welly Kasisdi.

"Setelah dikonfirmasi perihal barang bukti berupa ATM tersebut kepada tersangka, Welly membantah bahwa kartu ATM milik saya merupakan ATM yang dipergunakan untuk transaksi narkoba. ATM yang dipakai Welly warnanya perak, sedangkan ATM saya yang ditunjukkan oleh polisi berwarna emas. Bahkan tersangka Welly ini mengaku tidak mengenal saya," kata Efrita Moreno.

Lantaran merasa dirugikan akibat salah tangkap tersebut, Efrita Moreno akhirnya terpaksa mencari keadilan dengan menempuh jalur hukum dan menunjuk pengacara muda Rinto Wardana sebagai kuasa hukumnya.

Menurut Rinto Wardana, pengungkapan data nasabah oleh Bank BCA Bengkulu kepada pihak Kepolisian diketahui tanpa membawa izin tertulis dari Bank Indonesia, sehingga hal itu dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perbankan.

"Tak sekadar salah tangkap, Bank BCA juga diduga telah melanggar hak atas perlindungan data pribadi nasabah lantaran telah membuka identitas pribadi klien kami kepada kepolisian tanpa merujuk pada prosedur Peraturan Bank Indonesia No.2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank," ucap Rinto Wardana.

Oleh karena itu, pihaknya menuntut tergugat untuk mengganti kerugian materiil secara tanggung renteng sebesar Rp 264.000. Sedangkan kerugian immateriil, BCA dituntut Rp 8 Milliar dan Kepolisian Daerah Bengkulu Rp 200 miliar.

"Kami juga meminta tergugat untuk meminta maaf kepada klien kami yang dimuat di media cetak nasional dan media elektronik tiga hari berturut-turut sejak putusan dibacakan," ujarnya.

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved