Pilpres 2019

Mantan Menteri Gus Dur Sarankan Jokowi Rekrut Juru Bicara yang Agresif

AS Hikam menyarankan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, tidak hanya mengandalkan juru bicara dari kalangan partai politik.

Mantan Menteri Gus Dur Sarankan Jokowi Rekrut Juru Bicara yang Agresif
Warta Kota/Alex Suban
Presiden Joko Widodo melayani muslimat NU berfoto bersama saat bersama Ibu Negara Iriana menghadiri Silaturahmi dengan muslimat NU dan para ulama Ponpes Al-Ittihad di Cianjur, Jawa Barat, Jumat (8/2/2019). 

AS Hikam, mantan Menristek di era Presiden Gus Dur, menilai sebaiknya Presiden Jokowi Widodo, memiliki seorang juru bicara dari kalangan profesional, untuk menghadapi serangan selama musim kampanye Pilpres 2019.

Dirinya menyarankan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, tidak hanya mengandalkan juru bicara dari kalangan partai politik.

"Dari TKN harus memilih orang yang profesional. Bukan hanya mencomot dari partai-partai politik saja, profesional juga kalau perlu," ujar AS Hikam di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (9/2/2019).

Puluhan Pengemis Rebutan Uang Jemaat di Vihara Lalitavistara

Menurut AS Hikam, Jokowi harus memiliki juru bicara yang agresif saat menanggapi serangan dari kubu lawan.

Meski Jokowi punya sosok yang memiliki gaya komunikasi agresif seperti Ali Mochtar Ngabalin, namun dia tidak bisa diandalkan, karena berstatus tenaga ahli kantor staf presiden (KSP).

Selain itu, AS Hikam juga menilai Jokowi tidak bisa hanya mengandalkan politikus di TKN Jokowi-Maruf Amin seperti Abdul Kadir Karding.

Jokowi: Selamat Tahun Baru Imlek 2570, Semoga Persaudaraan Kita Menjadi Lebih Erat

"Misalnya kalau misalkan Ngabalin, Ngabalin enggak bisa karena dia pegawai KSP. Memang beliau sangat bagus untuk ofensif, tapi enggak bisa karena posisinya enggak bisa. Di TKN siapa? Karding? Saya kira Karding tidak efektif sebagai komunikator," ulas AS Hikam.

Selain itu, menurut AS Hikam, Jokowi juga tidak bisa bertindak agresif untuk menangkal segala serangan yang dialamatkan kepadanya.

Menurutnya, Jokowi harus bisa mengatur ritme untuk membuat pernyataan. Sehingga, tidak mendapatkan citra buruk.

"Ya itulah yang saya sebut manajemen. Karena bukan karena anda mau jadi presiden lagi maka anda harus kerja, tapi kan kemudian orang ada batasnya. Lelah luar biasa," beber AS Hikam. (Fahdi Fahlevi)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved