Susy Susanti Sebut Masih Banyak Atlet yang Mudah Putus Asa di Latihan

Susy Susanti berharap para pebulu tangkis bisa meningkatkan kualitas latihan dan membuatnya menjadi kebiasaan sehingga terbawa ke pertandingan.

Susy Susanti Sebut Masih Banyak Atlet yang Mudah Putus Asa di Latihan
PBSI
Susy Susanti 

DI tahun 2019, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti para pebulu tangkis bisa meningkatkan kualitas latihan.

Peraih medali emas Olimpiade Barcelona ini mengaku masih banyak pemain yang mudah menyerah dan putus asa dalam latihan.

Kebiasaan di latihan seperti itu terbawa di dalam pertandingannya.

"Mengatasi tekanan di pertandingan harus dibiasakan dari latihan. Contoh, kalau sudah capek di latihan, kadang masih nawar, kalau ketat, pasrah. Waktu latihan drilling 100 bola, kadang kalau sudah capek, dinyangkutin. Kkebiasaan di latihan akan kebawa, jadi cepat menyerah atau kalau bola susah tidak mau diambil. Lebih baik di latihan mikir yang terjelek dulu, kalau nanti nggak sejelek itu di pertandingan enak mainnya," ujar Susy.

Susy juga menuturkan bahwa tenaga atlet di pertandingan sudah pasti akan lebih terkuras karena adanya rasa tegang di lapangan. Sehingga semua di latihan harus dilakukan minimal tiga kali lipatnya.

"Kalau latihan 20 kali smash, paling di pertandingan cuma lima sampai enam kali smash untuk satu poin. Kalau di tunggal, bisa 56 kali sampai 80 kali, latihannya harus tiga kali lipatnya. Di pertandingan, setengahnya saja sudah hilang karena tenanga lebih terkuras, ada rasa tegang, feeling belum dapat dan sebagainya. Nah, kalau bisa menerapkan yang setengahnya saja sudah bagus," tuturnya dikutip dari laman resmi PSI.

Indonesia Kalahkah Pacific Oceania dan Tetap di Posisi ke-3

Kesadaran dari tiap atlet dipandang Susy menjadi hal utama yang akan membawa perubahan bagi si atlet itu sendiri.

Apalagi sebagai penghuni pelatnas yang merupakan tempat berkumpulnya pebulu tangkis-pebulu tangkis terbaik negeri ini.

"Ada atlet yang merasa sudah latihan, sudah habiskan program. Tapi kualitasnya bagaimana? Belum lagi yang nyolong-nyolong, kalau latihan kelincahan nggak sampai garis, aturannya kan harus menyentuh garis. Padahal ini kalau di pertandingan banyak manfaatnya, menentukan posisi dimana dia menyerang," jelas Susy.

Susy kembali memberi contoh pada pasangan rangking satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang kualitas latihannya patut diacungi jempol.

"Contohnya Kevin/Marcus, dari latihan sudah beda kualitasnya. Lihat Marcus, datang lebih pagi, pulang belakangan. Apa yang dia rasa masih kurang, dia ikut tambahan. Kevin kalau latihan kelihatan sekali tidak mau kalah. Coba lihat mereka di pertandingan, saat poin ketat, tidak mau kalah, karena mereka sudah biasa menghadapi situasi begini di latihan," ujar Susy.

"Kalau dibilang secara kualitas, Fajar (Alfian)/Rian (Ardianto) tidak kalah dari Kevin/Marcus. Teknik? Susah banget Kevin di depan menghadapi mereka. Tapi dari kegigihan dan kemauan untuk menang di lapangan, Kevin/Marcus masih lebih unggul. Saya bilang sama Fajar/Rian, dibiasakan untuk keluarkan ekspresinya, emosinya, di depan ini kan musuh. Ini karakter dan bisa kok diubah," pungkas Susy.

Kevin/Marcus sudah hampir dua tahun belakangan menduduki tahta peringkat satu dunia ganda putra.

Prestasi pasangan yang dijuluki Minions ini terbilang stabil. Membuka tahun 2019, Kevin/Marcus telah mengantongi dua gelar di Malaysia Masters dan Daihatsu Indonesia Masters 2019.

Editor: Dewi Pratiwi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved