INFO KEMENTERIAN

Kemenperin Dorong Industri Daur Ulang di Sektor Otomotif

Salah satu implementasi industri daur ulang di sektor otomotif adalah pembuatan blok mesin, 80 persen sudah menggunakan material daur ulang.

Kemenperin Dorong Industri Daur Ulang di Sektor Otomotif
Dok. Humas Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto memberikan pemaparan pada Seminar Nasional Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Industri Manufaktur Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Kawasan Industri Deltamas, Cikarang, Jawa Barat, Senin (6/2). 

WARTA KOTA, PALMERAH — Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry untuk sektor otomotif. Konsep ini dinilai mampu mendongkrak daya saing ekspor manufaktur Tanah Air, sekaligus bisa berkontribusi dalam menerapkan circular economy yang menjadi bagian industri 4.0.

 “Sekarang 73 persen ekspor kita ditopang dari industri manufaktur, dan sektor otomotif menjadi salah satu andalan,” ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat Seminar Nasional Kesiapan Sumber Daya manusia Industri Manufaktur Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di SMK Ananda Mitra Industri Deltamas di Cikarang, Jawa Barat, Rabu (6/2).

Ekspor sektor otomotif diperkirakan jumlahnya terus naik seiring rencana diterapkannya kebijakan fiskal, seperti harmonisasi tarif dan revisi besaran Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Keterangan resmi yang diterima wartakotalive.com menyebutkan, pada Januari-September 2018, jumlah ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) mencapai 187.752 unit.

Angkanya naik 10,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor sepeda motor dari Indonesia, pada 2018 melejit 46,3 persen menjadi 575.000 unit.

Karena itu, Menperin mengajak para pelaku industri otomotif nasional agar terus meningkatkan daya saingnya, dengan bersinergi mengusung ekonomi berkelanjutan melalui daur ulang, salah satunya plastic recycle.

Tren saat ini, komponen besar dalam kendaraan seperti, bumper, fender, dan dashboard pada mobil tidak lagi menggunakan stainless steel, tetapi menggunakan kandungan plastik. Ajakan Menperin tersebut sekaligus untuk mengakomodasi standar-standar keberlanjutan dari 10 prioritas nasional di dalam inisiatif Making Indonesia 4.0.

“Plastik itu bukan sampah, dari segi cost, plastik adalah bahan baku yang relatif lebih kompetitif dibanding yang lain, dan menyerap emisi lebih rendah,” kata Airlangga.

Menurut Airlangga, apabila industri otomotif menggunakan virgin plastic, maka biaya produksi akan lebih mahal. Terlebih apabila dengan impor virgin plastic, kebutuhan devisa akan menjadi lebih tinggi, karena saat ini Indonesia baru mampu memproduksi satu juta ton virgin plastic, padahal kebutuhannya mencapai lima juta ton.

“Karena itu pemerintah mendorong yang namanya circular economy, yang bagian juga dari industri 4.0,” tegasnya.

Halaman
123
Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved