GNS dan Kakaknya Ternyata Dapat Keringanan SPP 50 Persen

SDIT Bina Mujtama adalah sekolah yang diduga menghukum push-up siswi kelas IV berinisial GNS 100 kali karena belum melunasi SPP.

GNS dan Kakaknya Ternyata Dapat Keringanan SPP 50 Persen
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, mendatangi dan melakukan pengawasan langsung ke SDIT BM di Kabupaten Bogor, yang diberitakan sudah menghukum push-up siswinya GNS karena belum membayar SPP hingga mengalami trauma. 

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, melakukan kunjungan pengawasan ke SDIT Bina Mujtama di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jumat (1/2/2019) lalu.

SDIT Bina Mujtama adalah sekolah yang diduga menghukum push-up siswi kelas IV berinisial GNS 100 kali karena belum melunasi Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Saat mendatangi sekolah, KPAI juga melakukan rapat koordinasi penanganan kasus.

Selain KPAI, rapat koordinasi dihadiri oleh kepala sekolah, pengurus yayasan, pengacara sekolah, pengawas sekolah, Koordinator lapangan (Korlap) pendidikan kecamatan, perwakilan Dinas Pendidikan dan P2TP2A Kabupaten Bogor, serta perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Retno menjelaskan, terdapat beberapa catatan dari hasil rapat koordinasi tersebut.

Antara lain, pada 26 November 2018, pihak sekolah mengakui telah memberikan sanksi kepada tujuh peserta didik (termasuk GNS) untuk melakukan push-up sebanyak 10 kali (bukan 100 kali).

KPAI Datangi SD yang Kasih Hukuman Push Up Siswi Hingga Mengalami Trauma

Siswi yang Dihukum Push-up Setuju Pindah Sekolah ke Depok

Diduga Sekolah Hukum Siswi SD Ini Push Up 100 Kali Karena Tak Bayar SPP, KPAI Berang

Namun, kata Retno, hukuman itu diberikan karena pelanggaran disiplin, yaitu terlambat datang ke sekolah dan tidak membawa perlengkapan pada saat ujian atau Penilaian Akhir Semester.

"Jadi bukan karena tunggakan uang SPP," ujar Retno dalam keterangan yang diterima Warta Kota, Sabtu (2/2/2019).

Dia mengatakan, klarifikasi banyaknya jumlah push-up yang sebenarnya, yaitu 10 kali (bukan 100 kali) telah diklarifikasi pihak sekolah kepada orangtua GNS, bahkan dituangkan dalam sebuah kesepakatan damai tertanggal 10 Desember 2019.

Dalam perjanjian kesepakatan tersebut, orangtua GNS juga menyatakan akan memindahkan GNS ke sekolah negeri yang lebih dekat dengan rumah, karena ke SDIT BM terlalu jauh, sementara kondisi fisik ananda GS lemah dan mudah kelelahan.

Halaman
123
Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved