Antisipasi Pemerintah Kota Bekasi Menekan Pencemaran Lingkungan

Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi mencatat empat titik di wilayah setempat mengalami pencemaran udara cukup tinggi.

Antisipasi Pemerintah Kota Bekasi Menekan Pencemaran Lingkungan
Warta Kota/Rangga Baskoro
Ilustrasi proyek Tol Becakayu. 

WARTA KOTA, BEKASI--- Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi mencatat empat titik di wilayah setempat mengalami pencemaran udara cukup tinggi.

Satu titik di antaranya berada di lokasi proyek strategi nasional (PSN), yakni tol layang Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, mengatakan, petugas juga melakukan pengukuran dengan alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

Dari alat ini, indeks pencemaran di empat titik itu berada di tingkat sidang dengan kisaran interval 50-100.

Empat yang dinyatakan mengalami polusi debu yang cukup tinggi, seperti di persimpangan Jalan Chairil Anwar dengan Jalan Joyomartono; Jalan Raya Narogong KM 12 atau depan Pasar Bantargebang; Jalan Kaliabang di persimpangan Kaliabang Bungur; dan Pasar Sumber Arta tepatnya di simpang Jalan Raya Kalimalang dengan Jalan Kincan.

"Di empat titik yang kategori sedang itu angkanya sekitar 51 sampai 56, jadi belum jauh untuk debunya," kata Luthfi.

Luthfi menjelaskan ada lima kategori dengan masing-masing interval tentang ISPU.

Interval pertama 1-50 berkategori baik, kedua 50-100 berkategori sedang, ketiga 101-199 berkategori tidak sehat, keempat 200-299 dinyatakan sangat tidak sehat dan kelima di atas 300 dianggap berbahaya.

Indikator ini mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 45 tahun 1997 tentang ISPU.

Menurut Luthfi, Pemerintah Kota Bekasi sudah melakukan berbagai antisipasi untuk menekan pencemaran lingkungan.

Salah satunya adalah menanam pohon. Tercatat ada sekitar 600 bibit pohon sukun yang ditanam dengan memanfaatkan lahan kosong seperti sepanjang Kali Baru Pangeran Jayakarta, Polder Aren Jaya dan sebagainya.

"Penanaman pohon ini sebagai wujud agar Kota Bekasi lebih asri, indah dan jumlah RTH di Kota Bekasi juga terpenuhi," kata Luthfi.

Selain itu, pemerintah juga melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan tentang rekayasa lalu lintas di titik-titik kemacetan.

Sebab di titik kemacetan itulah polusi udara cenderung tinggi karena berasal dari emisi gas buang kendaraan dan debu yang bertebaran dari tanah.

"Tujuan rekayasa itu agar lebih mengurai kemacetan sehingga di titik itu kendaraan tidak berfokus yang berdampak pada polusi udara," jelasnya.

Proyek Becakayu di Bekasi Kontribusi terhadap Pencemaran Udara

Wakil Wali Kota Bekasi Klaim 83 Persen Warganya Puas Terhadap Pelayanan Publik

Bawaslu Kota Bekasi Sebut Pemasangan APK Tidak Efektif Dongkrak Suara

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved