Tersingkap Alasan Abu Bakar Baasyir Gagal Bebas karena Permintaan untuk Menghormati Australia

Scott Morrison mendesak Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan rasa hormat kepada Australia.

Tersingkap Alasan Abu Bakar Baasyir Gagal Bebas karena Permintaan untuk Menghormati Australia
Kompas.com
Ilustrasi. Presiden Joko Widodo, Jumat (31/8/2018) sore, menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Australia Scott Morrison di Istana Kepresidenan Bogor. 

Media asing menulis, ini faktor yang mengakibatkan rencana Abu Bakar Baasyir dibebaskan akhirnya tidak jadi dilaksanakan.

Salah satunya diungkap The Guardian, Selasa (22/1/2019).

Menteri Keamanan Indonesia (yang dimaksud adalah Menteri Koordinator Politik Hukum Keamanan, Wiranto) yang mengatakan, keputusan untuk membebaskan dalang pelaku pengeboman Bali, Abu Bakar Baasyir sedang ditinjau, yang dilakukan, beberapa jam, setelah Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mendesak Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan rasa hormat kepada Australia.

Menteri, Wiranto, mengatakan kepada konferensi pers yang tergesa-gesa pada Senin malam bahwa Widodo telah memintanya untuk mengoordinasikan peninjauan terhadap semua aspek dari rilis yang direncanakan.

 Abu Bakar Baasyir, sebelumnya dianggap tidak memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat karena penolakannya untuk melepaskan keyakinan radikal.

Namun, alasan sebenarnya bukan itu.

Keluarganya telah meminta pembebasannya sejak 2017 karena usianya dan kesehatan yang memburuk.

"Atas dasar pertimbangan kemanusiaan, presiden sangat memahami permintaan keluarga," kata Wiranto.

"Namun, masih perlu dipertimbangkan oleh aspek lain," katanya.

 Abu Bakar Baasyir (81) dianggap sebagai pemimpin teroris kelompok Islam Jemaah Islamiah, yang terlibat dalam pemboman Bali, tahun 2002.

Halaman
12
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved