Beda Mengadu Nasib Zaman Ahok dan Anies Baswedan

Bukan hanya kebijakan yang berganti, pergantian kepemimpinan Ahok ke Anies Baswedan juga mengubah kebiasaan masyarakat ketika mengadukan nasib.

Beda Mengadu Nasib Zaman Ahok dan Anies Baswedan
Kolase foto WartaKotalive.com
Ahok dan Anies Baswedan 

BUKAN hanya kebijakan yang berganti, pergantian kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kepada Anies Rasyid Baswedan juga mengubah kebiasaan masyarakat ketika mengadukan nasib.

Ketika masa kepemimpinan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2014-2017, menggantikan Joko Widodo yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia; azas keterbukaan diterapkan Ahok.

Balai Kota DKI yang semula hanya berupa kantor gubernur ataupun pusat Pemerintahan Daerah Provinsi DKI Jakarta, dibuka untuk umum kepada masyarakat oleh Ahok.

Masyarakat, oleh Ahok,  diperbolehkan untuk mengadukan nasib ataupun permasalahan yang alami mereka.

Pusat pengaduan masyarakat pun ditempatkan Ahok di teras Balai Agung, tepat di muka Balai Kota DKI, Gambir, Jakarta Pusat. Sehingga masyarakat dengan mudah mengakses layanan.

Tidak hanya itu, lantaran persis di sebelah pintu masuk utama menuju kantor Gubernur DKI Jakarta, banyak warga Ibu Kota yang datang sejak pagi hari, sebelum Ahok tiba di Balai Kota.

Mereka ingin keluhannya didengarkan langsung oleh Ahok sebagai pimpinan tertinggi.

Hilang

Namun, seiring dengan hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang memenangkan pasangan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, fenomena berbondong-bondongnya masyarakat ke Balai Kota DKI hilang.

Meja pengaduan Balai Kota DKI sejak sepekan terakhir terlihat sepi.

Halaman
1234
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved