Satu Tahun Beroperasi, Kereta Bandara Masih Susah Diakses dan Harga Tiket Dinilai Masih Mahal

Setahun setelah Kereta Bandara Soekarno-Hatta dioperasikan oleh PT Railink menuai sejumlah kritik dan saran.

WARTA KOTA, PALMERAH--- Setahun setelah Kereta Bandara Soekarno-Hatta dioperasikan oleh PT Railink menuai sejumlah kritik dan saran.

Utamanya kritik diarahkan pada fasilitas dasar KA Bandara yang dinilai belum dapat diakses dengan mudah dan terkait tiket perjalanan yang dinilai masih terlalu mahal.

Mengutip kajian Institut Studi Transportasi, tingkat okupansi KA Bandara masih 26 persen dengan pukul rata penumpang per hari di rata-rata 5.000 orang.

Angka ini dinilai masih terlalu rendah, apalagi mengingat pemerintah memiliki rencana besar adanya peralihan ke transportasi umum sebesar 40 persen pada tahun 2019 dan 60 persen pada tahun 2029.

Artinya dengan angka okupansi KA Bandara yang masih rendah ini, perjalanan menuju bandara Soetta dengan kereta masih dinilai kurang populer.

Direktur Instra, Deddy Herlambang, mengatakan, setidaknya terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan rendahnya okupansi ini.

Satu di antaranya adalah lemahnya perencanaan infrastruktur KA Bandara yang berada di luar aktivitas utama kedatangan dan kepergian penumpang.

"Sehingga pengguna harus diantarkan dengan feeder skytrain menuju terminal, menyebabkan publik enggan menggunakan KA Bandara karena dianggap terlalu merepotkan, apalagi bila membawa bagasi yang banyak," kata Deddy baru-baru ini.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setiawarno, mengatakan, rendahnya tingkap okupansi ini karena fasilitas pendukung KA Bandara di belum mumpuni.

"Bandara itu tidak didesain ada akses kereta. Kalau di negara yang lain kan sudah ada keluar dikit bisa milih mau bus mobil atau kereta," kata Djoko.

Halaman
12
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved