Anda Langsing karena Penciuman Tajam? Simak Hasil Penelitian Ini

Hasil studi mengungkapkan semakin baik seseorang mencium bau, mereka cenderung bertubuh langsing dan sebaliknya.

Anda Langsing karena Penciuman Tajam? Simak Hasil Penelitian Ini
Tribunnews.com
Ilustrasi 

TERNYATA Anda yang memiliki tubuh langsing salah satunya karena penciuman Anda tajam.

Setidaknya itulah tabir yang terungkap dari hasil penelitian Universitas Otago di Selandia Baru, yang selama ini sedikit orang yang tahu cara memiliki tubuh langsing.

Baru-baru ini para peneliti dari Universitas Otago di Selandia Baru menemukan hubungan mengejutkan antara berat badan dan kemampuan seseorang mencium bau.

Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Obesity Review, mereka mengungkapkan semakin baik seseorang mencium bau, mereka cenderung bertubuh langsing dan sebaliknya.

"Ada hubungan yang kuat antara berat badan seseorang dan kemampuan menciumnya - semakin baik seseorang dapat mencium, semakin besar kemungkinan orang itu langsing, atau sebaliknya," kata Mei Peng dari Departemen Ilmu Pangan Universitas Otago, seperti dikutip Antaranews.com dari Medical News Today, Kamis (3/1).

Peng mengatakan, bau memainkan peran penting dalam perilaku makan karena memengaruhi cara seseorang mengidentifikasi dan memilih di antara berbagai rasa.

Indera penciuman yang buruk dapat menyebabkan orang membuat pilihan makanan yang tidak sehat, yang dapat meningkatkan risiko obesitas.

"Misalnya, mereka mungkin memilih, atau lebih tertarik pada makanan yang lebih asin dan lezat seperti bacon dan sirup maple daripada makanan yang lebih hambar, seperti sereal rendah lemak dengan sedikit gula," kata dia.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, peneliti mengumpulkan makalah ilmiah tentang hubungan antara berat badan dan indera penciuman.

Mereka juga mengumpulkan informasi dari hampir 1500 orang berdasarkan studi empiris dan klinis di seluruh dunia.

Obesitas merupakan kondisi medis yang ditandai banyaknya jumlah lemak dalam tubuh.

Kondisi ini dialami jutaan orang di seluruh dunia dan merupakan faktor risiko terjadinya diabetes dan penyakit jantung. (*)

Penulis: Andy Pribadi
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved