Tsunami Pantai Anyer

Media Asing Sebut Indonesia Lemah Hadapi Bencana, Fadli Zon Setuju

Tidak hanya media nasional, jurnalis mancanegara pun berdatangan melaporkan buruknya penanganan Indonesia menghadapi bencana.

Media Asing Sebut Indonesia Lemah Hadapi Bencana, Fadli Zon Setuju
KOMPAS/RIZA FATHONI
Pantauan udara garis pantai di kawasan Banten yang terdampak tsunami dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). Bencana tersebut menimbulkan ratusan korban jiwa, sebagian luka-luka dan korban hilang serta kerusakan pada gedung-gedung, permukiman hingga kapal nelayanPenanganan darurat dampak bencana terus dilakukan pihak BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian PU Pera, Kementerian ESDM, dan embaga terkait terus bersama pemerintah daerah. 

Palmerah, Warta Kota -- Bencana alam berupa tsunami yang terjadi di Anyer, Banten pada Sabtu (22/12/2018) malam, menarik perhatian seluruh dunia.

Tidak hanya media nasional, jurnalis mancanegara pun berdatangan melaporkan buruknya penanganan Indonesia menghadapi bencana.

Kritik pedas seperti disampaikan oleh media asing, Al Jazeera English yang diunggah lewat akun twitternya, @AJEnglish pada Selasa (25/12/2018).

Dalam laporan tersebut, Al Jazeera menyebut buruknya penanganan Indonesia menghadapi bencana.

Dalam narasi, disebutkan tsunami menerjang garis pantai, menerjang permukiman penduduk Indonesia. Masyarakat ketakutan akan kedatangan ombak yang lebih mematikan kembali.

"Kadang-kadang, ah ga papalah, kadang-kadang takut. Nggak pernah pulang pak, udah dua hari nggak pernah pulang," ungkap Kasriah, salah satu pengungsi Tsunami Anyer, Banten.

Suasana kawasan bekas diterjang tsunami Pantai Anyer.
Suasana kawasan bekas diterjang tsunami Pantai Anyer. (Twitter admin Al Jazeera English @AJEnglish)

Al Jazeera pun menyebutkan Anak Krakatau hingga kini masih mengalami erupsi.

Gunung berapi dipercaya memicu terjadinya tsunami yang melanda pesisir pantai sebelah barat Banten maupun sisi selatan Lampung pada Sabtu (22/12/2018).

Tsunami tersebut membunuh ratusan warga akibat minimnya informasi tentang bencana.

Mereka yang selamat pun akhirnya mengungsi ketakutan hingga batas waktu yang tidak ditentukan lantaran tidak adanya alat pendeteksi bencana.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved