Destinasi Pariwisata

Cara Berburu Blue Fire yang Sangat Menakjubkan, Dapatkan 5 Pengalaman Langka di Dunia

Bila musim hujan, kemunculan si api biru ini agak ‘malu-malu’ alias agak kecil ketimbang di saat musim kemarau.

Cara Berburu Blue Fire yang Sangat Menakjubkan, Dapatkan 5 Pengalaman Langka di Dunia
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
Fenomena bluefire atau api biru yang sangat menakjubkan. 

Si api biru atau blue fire merupakan fenomena langka yang hanya ada dua di dunia.

Satunya hanya bisa disaksikan di Islandia (Iceland), Eropa.

Dan satunya berada di Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur.

Cahaya kebiruan ini muncul hanya pada pukul 03.00-04.00.

Api biru yang menakjubkan.
Api biru yang menakjubkan. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Kemunculannya juga kadang besar, kecil, bahkan tidak terlihat.

Cuaca setempat sangat mempengaruhi kemunculannya.

Bila musim hujan, si api biru ini agak ‘malu-malu’ alias agak kecil ketimbang di saat musim kemarau.

Saat musim kemarau diyakini waktu yang ideal  untuk melihat blue fire ini.

Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Selain si api ibiru ni akan terlihat lebih besar, kemungkinan terjadinya hujan, pastinya  akan lebih kecil ketimbang telah masuk musim hujan.

Hujan membuat pendakian lebih berat karena jalan akan semakin licin dan tentu saja membuat basah.

Kondisi ini tentu akan menyulitkan saat proses pendakian.   

Namun, bila ada kesempatan di musim hujan, ya mengapa tidak? Tentu dengan segala konsekuensinya.  

Waspadai Gelombang Tinggi Pantai Selatan yang Bisa Picu Pasang Air Laut

Menjelang Natal, Tina Toon Dapat Kado Buruk

6 Fakta Terungkap setelah Dylan Sahara Ditemukan, Dari Nama Asli sampai Hubungan dengan Fadli Zon

Fenomena bluefire atau api biru yang sangat menakjubkan.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Pasalnya, kesempatan untuk melihat secara langsung fenomena ini, perlu diusahakan, walaupun sekali seumur hidup.

Selain tekad yang membara, untuk bisa melihat secara langsung si api  biru ini, diperlukan fisik yang kuat.

Medannya cukup membuat ciut semangat yang sudah membara sejak berangkat.

Wartakotalive.com berkesempatan mengunjungi Kawah Ijen pada Kamis (20/12/2018).

Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Untuk memulai pendakian melalui pintu utama Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) yang terletak di Desa Banyusari.

Pintu utama ini baru dibuka pukul 01.00 dengan membayar tiket Rp 5.000 per orang.

Pendakian hendaknya dimulai pukul 01.00 untuk mengejar si biru api ini.

Pasalnya kemunculannya hanya sebentar, kurang dari satu jam sebelum berganti pagi.

Berikut 5 Pengalaman Menakjubkan terkait Blue Fire di Kawah Ijen

1. Berjalan Kaki Mendaki Sejauh 3 Km

Pendakian diawali medan yang relatif landai namun mendaki, dengan kemiringan sekitar 25 derajat.

Kondisi yang agak berpasir membuat perlu kehati-hatian untuk mendaki terutama para pemula.

Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Jalannya relatif lebar sekitar lima meter yang samping kanan atau kirinya jurang.

Karena mendaki pada malam hari, tidak ada penerangan lain, selain dari senter.

Sebaiknya senter yang diletakan di kepala (headlamp) agar tangan menjadi lebih bebas.

Sebelum mendaki, suhu relatif agak dingin.

Namun ketika mulai mendaki, suhu tubuhpun menjadi meningkat, sehingga jaket yang awalnya dikenakan jadi terasa ‘gerah’.

Bahkan wisatawan asing terlihat hanya mengenakan celana pendek saja.

Padahal, konon suhu saat musim hujan bisa  kurang dari 10 derajat celcius bahkan bisa minus saat musim kemarau.

Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Medan yang menanjak ini sekitar 1,5km lalu berganti menjadi datar karena medan sedang mengelilingi gunung.

Setelah mendapat ‘bonus’ medan yang datar sekitar 1km, kembali naik lalu akhirnya bertemu dengan warung yang oleh pendaki disebut kantin.

Di kantin ini, pendaki biasanya istirahat sejenak, buang air kecil atau besar, menikmati makan atau minum yang dijual di warung tersebut.

Setelah penat  agak berkurang, kembali melanjutkan  perjalanan untuk menuju Puncak Kawah Ijen.

Sampai di puncak ini, pendaki boleh berbangga karena sudah berhasil sampai ke posisi 2.386 mdpl (meter dibawah permukaan laut).

Papan penunjuk ketinggian ini jadi favorit pendaki untuk berfoto.

2. Tersedia Jasa Ojek di Kawah Ijen Banyuwangi

Pada pendakian ini, bila tidak ingin berjalan, ada jasa dengan menaiki gerobak yang biasa digunakan untuk mengangkut belerang.

Gerobak ini bila akan dinaiki pendaki akan diberi semacam matras agar lebih empuk diduduki.

Untuk naik gerobak ini saat mendaki, biaya yang dikenakan tidak murah.

Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Antara Rp 700.000-Rp 1 juta, tergantung berat badan penumpang.

Gerobak ini ditarik 3 orang. Dua di depan yang menarik gerobak itu, dan satu untuk mendorong agar lebih ringan buat penariknya.

Sementara, bila dalam posisi turun, biaya yang dikenakan relatif lebih murah, hanya Rp 100. 000. Selain menurun, untuk mendorong gerobak ini cukup satu orang saja.

3. Mendaki Tanjakan Sangat Terjal

Ada perasaan lega setelah sampai ke Puncak Kawah Ijen.

Namun, sejatinya, perjuangan untuk melihat si api biru, baru akan dimulai.

Fenomena bluefire atau api biru yang sangat menakjubkan.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Pendakian berjarak 3 km bak pemanasan untuk menjangkau ke bawah kawah tempat si api biru berada.

Walaupun jaraknya tidak sampai 1 km, namun medannya terjal dengan batu-batu besar nan tajam, dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Apalagi tentu saja kondisinya gelap.

Ditambah lagi, kita harus mengenakan masker khusus.

Kawah tersebut berselimut asap atau gas yang bisa menyebabkan sesak nafas.

Bila kondisi tidak fit bisa membuat pingsan bahkan meninggal.  Masker ini bisa disewa seharga Rp 25.000.

Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya.
Fenomena blue fire atau api biru yang sangat menakjubkan di samping sejumlah pemandangan lainnya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Namun, biasanya masker ini tidak selamanya dipakai.

Pemandu akan melihat arah angin dari asap itu.

Bila menjauh atau sedang lurus ke arah langit, masker itu cukup dikalungkan di leher tanpa dikenakan di hidung dan mulut.

Saat berada di titik keletihan menghadapi medan yang terjal tersebut, akan muncul semangat lagi, ketika berpapasan dengan penambang belerang.  

Tidak seperti pendaki yang hanya membawa tas kecil berisi air minum atau makanan, penambang ini membawa keranjang yang berisi belerang yang berat.

Melihat mereka, semangat yang sempat turun,  naik lagi karena ada perasaan ‘malu’. Waktu tempuh untuk mencapai si api biru dari Puncak Kawah, rata-rata 1-1,5 jam, tergantung kondisi fisik.  

Dan akhirnya, si api biru yang diburu pun muncul di hadapan Wartakotalive.com. Benar saja, api itu tidak terlalu besar. Namun cukup membuat kagum.

Selain itu  ada rasa bangga akan pencapaian itu. Karena untuk melihat si api yang langka ini tidak semua orang bisa mencapainya.

Secepatnya mengambil telepon genggam untuk mengabadikan momen tersebut karena api itu segera hilang.

Begitu pagi  mulai menyingsing, api itu perlahan-lahan mengecil lalu menghilang. Namun, keindahan di Kawah Ijen tidak pudar seiring hilangnya si api biru.

4. Penambang Belerang Bisa Diajak Foto

Ketika cahaya matahari mulai menyinari kawasan kawah tersebut, terlihatlah pemandangan ‘asli’.

Bebatuan yang terjal yang semalam hanya bisa dilihat dari jarak pendek, terlihat secara keseluruhan.

Kita berdiri di bawah kawah dengan ‘dinding’ batuan terjal. Ada perasaan ‘kecil’ berada di lokasi yang sebenarnya cukup berbahaya.

Ada lagi pemandangan langka yakni danau asam yang konon terbesar di dunia.

Danau tersebut memiliki kedalaman 200 meter dengan luas sekitar 5.466 hektar. Warna danau itu berwarna tosca yang sangat indah.

Tidak cukup danau, pemandangan yang tak kalah langka, bisa melihat para penambang belerang dari dekat.

Bagaimana belerang itu ditambang dan proses belereang itu terjadi.

Bila ingin mencoba mengangkut belerang pun bisa dicoba.

Tapi biasanya bagi orang awan akan sulit mengangkatnya.

Ingin mengambil foto penambang itupun mereka biasanya mau.

Tapi beberapa penambang meminta uang ketika selesai berfoto. Walaupun tidak menentukan tarif.

Diberi Rp 10.000 pun, penambang itupun akan tersenyum dan kitapun bisa melihat  gigi para penambang yang kebanyakan rusak.  

5. Bertayamum untuk Salat Subuh 

Bagi umat muslim,  bisa shalat subuh di tengah kawah jadi pengalaman yang langka.

Karena tidak ada air, sebelum shalat bisa melakukan tayamum (berwudhu menggunakan debu) atau dengan air yang dibawa dari atas.

Puas berfoto dan berlama-lama menyaksikan keindahan yang langka itu, kembali bersiap mendaki menuju atas.

Bila semalam saja, dalam kondisi menurun kondisi fisik harus kuat, saat pulang tentu saja kebalikannya, yakni mendaki.

Lagi-lagi penambang belerang menjadi ‘penyemangat’.

Setelah sampai puncak, bisa berfoto-foto lagi karena banyak spot yang menarik untuk difoto.

Selanjutnya menuju jalur pendakian untuk  pulang.

Bila semalam hanya kegelapan yang terlihat, saat pagi, ternyata  pemandangan yang disajikan begitu indah.

Deretan gunung, yakni Merapi, Raung yang berselimut kabut membuat perjalanan beberapa kali berhenti untuk mengabadikan pemandangan itu.

Saat pulang, relatif lebih cepat karena posisi yang menurun dan udara yang begitu segar nan kaya oksigen.

Tahu-tahu, perjalanan itu sudah sampai di posisi awal dan segera menikmati sarapan yang jadi begitu nikmat karena kalori yang terkuras sejak dini hari.

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved