News

Pedagang Kopi Pasar Induk Kramat Jati Resah Pungli Sewa Lapak Mencekik

pedagang mengaku keberatan dengan tarif sewa tersebut membuat kebinggungan untuk membayar dengan pendapatan yang terhitung minim.

Pedagang Kopi Pasar Induk Kramat Jati Resah Pungli Sewa Lapak Mencekik
Warta Kota
Salah satu lapak yang dikenakan tarif sewa dengan harga Rp. 800 ribu perbulan di Pasar Induk Kramat Jati. 

KRAMAT JATI-WARTA KOTA. Sejumlah pedagang kopi di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur mengaku resah akan adanya pungli yang dilakukan oleh oknum pihak Pasar. Keresahan yang dirasakan pasalnya para pedagang diwajibkan membayar sewa lapak berukuran 1x2 meter yang ditempati pedagang dengan harga Rp. 800 perbulan.

Salah satu lapak yang dikenakan tarif sewa dengan harga Rp. 800 ribu perbulan di Pasar Induk Kramat Jati.
Salah satu lapak yang dikenakan tarif sewa dengan harga Rp. 800 ribu perbulan di Pasar Induk Kramat Jati. (Warta Kota)

Atas harga yang dinilai mencekik tersebut, mereka mengaku keberatan karena dengan tarif sewa tersebut membuat kebinggungan untuk membayar dengan pendapatan yang terhitung minim.

Salah satu pedagang, Andi mengatakan bahwa tarif sewa lapak tersebut yang dinilai sangat mencekik pedagang sejak penggantian Kepala Pasar. Sejak saat itulah keresahan para pedagang mulai terasa terlebih beberapa kebijakan mulai berubah.

"Pokoknya sejak diganti aja kepala pasarnya itu bayarnya segitu. Malah sebelumnya Rp. 1 juta, ini aja turun lagi jadi Rp.800, ribu," kata Andi salah satu pedagang kopi, Jumat (14/12/2018).

Meski sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Induk Kramat Jati, ia mengaku pungutan ini dinilai paling mahal, padahal, sebelum kepala Pasar Induk diganti, tarif sewa lapak sebesar Rp. 300-400 ribu. Harga tersebut dibayarkan ke pemilik lapak, namun saat ini justru tarif sewa tersebut dikelola oleh pihak Pasar.

Jika para pedagang tidak membayar para pedagang diancam akan diganti dengan pedagang lain yang sudah mengantri. Sehingga hal itu membuat para pedagang terpaksa harus menurut dan membayar sewa lapak tersebut.

"Ya mau gimana lagi. Kalo ngak bayar diganti katanya udah banyak yang antri," ucapnya.

Selain itu hal serupa juga dikatakan oleh Slamet, salah satu pedagang, ia menilai kebijakan ini sangat memberatkan. Pasalnya, pendapatan dari berjualan kopi yang didapat selama ini juga dinilai tidak begitu besar.

"Ya sejak ada tarif baru ini, pendapatan menurun karena harus bayar sewa yang besar. Karena untung jualan kopi berapa sih? Ya paling cuma bisa buat makan, itu dia yang sebenarnya kita bikin pusing," ucapnya.

Untuk itu dirinya berharap dari direksi PD Pasar Jaya segera mengambil tindakan. Pasalnya, harga sewa untuk lahan berukuran 1x2 meter itu dinilai sangat mencekiknya.

Terlebih menurutnya nilai sewa lapak tersebut tak akan masuk ke retribusi PD Pasar Jaya. Karena para pedagang yang berjualan di setiap sudut pasar dan dianggap sebagai pedagang kaki-5.

"Ya ini pengurus barunya cari untung kelewatan. Coba saja ditotal, Rp800 ribu dikali 42 pedagang, bisa dapat Rp. 33 juta sebulan," ujarnya.

Terkait hal itu, Manager Pasar Induk Kramatjati, Agus Lamun mengaku tak mengetahui adanya pungutan liar itu.

"Sedang kita selidiki," katanya. (JOS)

Penulis: Joko Supriyanto
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved