Warga yang Tolak Pemagaran Pasar Cisalak Merasa Diintimidasi Petugas

Warga yang menolak pemagaran Pasar Cisalak merasa diintimidasi petugas. Mereka diancam akan dipolisikan jika merusak pembatas yang sudah dipasang.

Warga yang Tolak Pemagaran Pasar Cisalak Merasa Diintimidasi Petugas
Warta Kota
Warga bangun tenda keprihatian tok berjaga-jaga tolak pemagaran Pasar Cisalak. 

WARGA  di sekitar area Pasar Cisalak, saat ini mengaku diintimidasi oleh petugas akibat penolakan mereka terhadap pengerjaan pemagaran area Pasar Cisalak oleh Pemkot Depok, yang mereka lakukan selama ini.

Intimidasi di dapat warga setelah mereka terus berjaga-jaga di sekitar lokasi pemagaran dengan membangun dua tenda atau posko keprihatinan.

Di dua tenda itu, warga terus memastikan agar pengerjaan pemagaran tembok yang nantinya akan menutup akses jalan di depan ratusan rumah dan tempat usaha warga, tidak dilanjutkan.

Ujang Romli, Sekertaris RT 3/6, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, selaku perwakilan warga menjelaskan intimidasi didapat warga setelah sejumlah pekerja kontraktor yang didampingi sekitar 40 petugas gabungan dari Satpol PP Depok, kepolisian dan petugas keamanan pasar, membangun barikade seng di lokasi pemagaran, Selasa (4/12/2018) malam lalu.

"Saat itu seluruh warga sekitar yang menolak pemagaran, mendapar intimidasi petugas dari Pemkot Depok, bahwa mereka akan dipolisikan jika merusak barikade seng yang dipasang pekerja. Intimidasi ini benar-benar membuat kami shock sekaligus marah," kata Ujang.

Meski mendapat intimidasi itu, kata Ujang, warga tetap sepakat akan terus melakukan penolakan pemagaran area pasar.

Sebab pagar tembok 2,10 meter yang akan dibangun dipastikan menutup akses jalan rumah dan tempat usaha warga. Pagar tembok direncanakan dibangun beberapa meter tepat di sepanjang jalan di depan deretan rumah dan tempat usaha warga di Jala Gadog dan Jalan Uhan.

"Kami akan tetap berupaya dan meminta, agar rencana pemagaran ini dibatalkab. Sebab dengan pemagaran, otomatis membuat rumah dan tempat usaha warga terisolir akibat tak memiliki akses jalan. Ini benar-benar akan membunuh kehidupan kami," kata Ujang.

Intimidasi yang didapat warga kata Ujang, juga sudah disampaikan dalam rapat mediasi dan pembahasan yang dipimpin Ombudsman RI, di ruang pertemuan Gedung Perpustakaan Pemkot Depok, Jumat (7/12/2018) lalu.

Namun tanggapan Ombudsman dalam rapat itu mengecewakan warga. Sebab Ombudsman yang diwakili Dominikus selaku asisten khusus Ombudsman RI serta Rully dan Fadli, lebih cenderung memaksa warga menerima pemagaran dengan sejumlah tawaran yang dianggap Pemkot Depok adalah solusi agar warga tetap memiliki akses jalan meski lebih terbatas.

Halaman
123
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved