Rapat Pembahasan Pemagaran Pasar Cisalak Yang Dipimpin Ombudsman Buntu

RAPAT pembahasan mengenai pemagaran area Pasar Cisalak yang ditolak warga sekitar berakhir buntu.

Rapat Pembahasan Pemagaran Pasar Cisalak Yang Dipimpin Ombudsman Buntu
WARTA KOTA/BUDI SAM LAW MALAU
Perwakilan warga yang tolak pemagaran pasar cisalak saat menggelar rapat dengan Ombudsman dan Disdagin Depok. 

RAPAT pembahasan mengenai pemagaran area Pasar Cisalak yang ditolak warga sekitar mengalami kebuntuan.

Rapat tersebut dipimpin Ombudsman RI dengan menghadirkan warga sekitar area pasar serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok dan pihak terkait lainnya, di ruang pertemuan Gedung Perpustakaan Pasar Cisalak, Jumat (7/12/2018) berakhir buntu.

Pasalnya perwakilan warga yang hadir tetap menolak pemagaran tembok yang akan dilakukan Pemkot Depok dalam hal ini Disdagin Depok. Sebab pagar dibangun di depan rumah dan tempat usaha warga

Sementara Ombudsman RI yang diwakili tiga orang yakni Dominikus selaku asisten khusus Ombudsman RI serta Rully dan Fadli, terkesan memaksakan agar warga menerima rencana pemagaran Pasar Cisalak, dengan sejumlah solusi yang ditawarkan dan diberikan Disdagin Depok.

Ombudsman sama sekali tidak menyinggung kemungkinan pembatalan rencana pemagaran area Pasar Cisalak, yang dinilai warga merupakan program ngawur dalam menata pasar. Sebab pemagaran justru membuat warga sekitar terisolasi dan tak memiliki akses jalan.

"Sebab dari legalitas lahan yang ada, pemagaran yang dilakukan Disdagin Depok adalah di tanah yang hak penggunaannya memang dimiliki Pemkot Depok. Ini sudah dikonfirmasi ke BPN. Jika dikatakan pemagaran menutup jalan di depan rumah warga, Pemkot Depok menawarkan berbagai solusi," kata Dominikus, Jumat.

Namun kata Dominikus warga meminta Ombudsman datang ke lokasi rumah dan tempat usaha warga terlebih dahulu agar lebih memahami situasi dan keadaan lingkungan warga

"Pekan depan, ada tim dari Ombudsman yang datang ke lokasi dan menerima pandangan serta masukan warga," katanya.

Sementara itu, Wahid salah satu perwakilan warga yang hadir mengatakan tidak mungkin warga mau menerima pemagaran tembok di depan rumah dan tempat usaha mereka..

"Kami sudah lebih 30 tahun tinggal di sana. Bagaimana mungkin jika tahu-tahu di depan pintu rumah ada pagar tembok. Ini sama saja Pemkot Depok ingin membunuh kami," katanya.

Halaman
1234
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved