Pengamat: Grab yang Memulai Perang Tarif

PERANG tarif di bisnis transportasi daring saat ini dimulai oleh Grab, berupa penerapan strategi tarif sangat rendah ke konsumen dan banjir promo.

Pengamat: Grab yang Memulai Perang Tarif
Liputan 6
Pengemudi ojek online ikut pawai obor Asian Games 2018 di Bali 

PERANG tarif di bisnis transportasi daring saat ini dimulai oleh Grab, berupa penerapan strategi tarif sangat rendah ke konsumen dan banjir promo.

"Grab punya andil sebagai yang memulai perang tarif ini. Jadi, tidak bisa lepas tangan begitu saja. Kenaikan angka pengguna Grab sangat dipengaruhi oleh tarif yang terlampau murah dan banjir promo," kata pengamat transportasi dari teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology/ICT) Heru Sutadi, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Menurut Heru, perusahaan asal Malaysia ini memang sempat menggencarkan promo tarif Rp 1 demi menjaring pengguna dan menantang Go-Jek di pasar Indonesia.

Jokowi Masih Unggul 20 Persen Atas Prabowo, Perang Isu Sensasional Tak Ubah Elektabilitas

Sampai akhirnya, kata Heru, Go-Jek merespons tindakan Grab tersebut dengan ikut melakukan penyesuaian tarif dan memberikan promo. Bagi Heru, tindakan Go-Jek merupakan hal yang wajar terjadi dalam urusan persaingan bisnis.

"Kalau Go-Jek melakukan penyesuaian tarif, itu karena Grab melakukan hal tersebut terlebih dahulu. Wajar saja, jadi tak perlu ada kritik," ujarnya.

Dalam persaingan ini, kata Heru, tarif yang kompetitif cuma merupakan satu dari tiga komponen upaya menjaring lebih banyak pengguna. Masih ada dua komponen penentu lainnya, yaitu layanan berkualitas dan kelengkapan layanan dalam satu aplikasi.

KPK: Kalau DPR Enggak Selesai-selesai Bahas RUU, Jangan Digaji!

Ketiga aspek itu saling berkaitan erat dalam upaya menggaet konsumen lebih banyak lagi. Hanya, kata Heru menegaskan, strategi penerapan tarif murah untuk konsumen juga harus tetap memperhatikan kesejahteraan mitra pengemudi sebagai pilar di bisnis ini. Jangan sampai mitra pengemudi malah menjadi pihak yang paling rugi.

"Harus ada jaminan kesejahteraan. Selama ini, kita melihat investasi ke Grab cukup besar, tapi seperti tidak menetes ke pengemudinya. Makanya sampai terjadi demo dan migrasi pengemudi," ulas Heru.

Heru melanjutkan, fenomena migrasi mitra pengemudi Grab ke Go-Jek sangat dipengaruhi oleh persoalan kemampuan perusahaan memberikan kenyamanan dan jaminan kesejahteraan.

GARDA: Tarif Grab ke Pengemudi Lebih Rendah Ketimbang Go-Jek

Menurut Heru, selain soal tarif dan insentif untuk mitra pengemudi Grab terlampau rendah, layanan Go-Jek jauh lebih banyak dan populer guna membantu mendongkrak pendapatan lebih layak.

"Kita semua tahu, popularitas Go-Food dan Go-Send serta skema top up Go-Pay sebagai opsi tambahan pendapatan, belum bisa disaingi oleh Grab. Ini jelas menjadi daya tarik untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih layak," papar Heru.

Sebelumnya, Managing Director Grab Indonesia Rizki Kramadibrata mengkritik penyesuaian tarif yang dilakukan oleh Go-Jek.

Ratusan Pengemudi Grab Pindah ke Go-Jek, Ini Alasannya

VP Corporate Affairs Go-Jek Michael Say merespons kritik tersebut dengan menyatakan bahwa penyesuaian dilakukan justru demi mengikuti kondisi pasar dan menjamin daya saing mitra pengemudi.

Pada kenyataannya, tarif yang diterima mitra pengemudi Go-Jek saat ini justru masih lebih tinggi daripada tarif Grab.

Berdasarkan data perbandingan di lapangan, tarif yang diterima pengemudi Grab adalah Rp 1.200 per kilometer untuk perjalanan jarak dekat, sedangkan Go-Jek memberikan tarif Rp 1.600 per kilometer. (Edy Sujatmiko)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved