Aksi 212

Pasca Reuni Akbar 212, Ferdinand Ajak Rakyat Indonesia Lawan Pemimpin Lalim

Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengajak rakyat Indonesia melawan pemimpin yang lalim.

Pasca Reuni Akbar 212, Ferdinand Ajak Rakyat Indonesia Lawan Pemimpin Lalim
twitter @ferdinand_haean
Kepala Divisi Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean

KEPALA Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menyoroti penggiringan isu pasca Reuni Akbar 212.

Dirinya mengajak rakyat Indonesia, khususnya pendukung Prabowo-Sandiaga Uno untuk melawan pemimpin yang lalim.

Ajakan itu disampaikan Ferdinand lewat akun twitternya @Ferdinand_Haean; pada Jumat (7/12/2018).

Dalam video yang dipostingnya, ajakan itu disampaikan untuk melawan penggiringan opini yang menyebutkan Reuni Akbar 212 sama halnya dengan tidak menghormati pemimpin yakni Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Ferdinand Hutahean Sebut Bangsa Indonesia Butuh Pemimpin yang Tidak Bertuan

Jokowi Masih Unggul 20 Persen Atas Prabowo, Perang Isu Sensasional Tak Ubah Elektabilitas

Hal tersebut secara langsung dibantahnya. Karena, menurutnya, walaupun rakyat diwajibkan untuk menghormati dan mencintai pemimpinnya, rakyat memiliki hak untuk menilai tentang pantas atau tidaknya pemimpin diikuti.

"Salam sahabat, belakangan ini ada pihak-pihak yang terus menebar propaganda-opini untuk melemahkan perjuangan kita. Mereka ingin kita lemah, pergerakan kita ingin dilumpuhkan. Mereka mencoba mencuci otak masyarakat dengan membangun narasi, 'jangan jadi rakyat membenci pemimpin, pemimpin harus dicintai, pemimpin harus dihormati'," ungkap Ferdinand.

"Betul, kita harus menghormati pemimpin, mencintai pemimpin. Tetapi, pemimpin yang seperti apa?," tambahnya.

Ada Stiker Jokowi Naik Motor di Penutupan Asian Games, Ferdinand Sebut Politisasi Olahraga

LIVE STREAMING Liga 1 2018 : Persija Tidak Boleh Lengah

Dirinya menganalogikan kondisi bangsa Indonesia saat ini dengan pepatah tua melayu.

Pepatah tersebut mengajarkan untuk mendukung pemimpin yang baik dan melawan pendukung yang lalim.

"Dulu di daerah melayu ada sebuah pepatah, 'Raja alim, Raja disembah. Raja lalim, Raja disanggah'. Raja yang mana yang harus disembah, tentu raja yang alim, bukan raja yang lalim atau raja yang zholim. Atau mungkin, ketika situasi ini sekarang kita hidup di zaman firaun, kita akan menyembah firaun? Tidak! Tentu kita akan melawan. Karena itu kita harus melawan pemimpin yang zholim, pemimpin yang lalim tidak boleh disembah," tegas Ferdinand.

Ini Ucapan Raja Salman soal Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi

Puisi Fadli Zon untuk Polemik Raja Jokowi yang Dibalas Erick Thohir Mundur Kalau Jadi Raja

Oleh karena itu, dirinya mengingatkan jika perjuangan bukan merupakan bentuk kebencian terhadap pemimpin.

Ferdinand pun mengajak masyarakat, khususnya pendukung Prabowo-Sandiaga Uno tetap tegar, karena senyatanya rakyat akan memilih pemimpin yang adil dan mencintai rakyatnya.

"Jadi kalau ada yang ingin melemahkan perjuangan kita, yang ingin melemahkan pergerakan kita dengan membangun narasi seperti itu, jangan ajari rakyat membenci pemimpin.

Kita tidak sedang mengajari membenci pemimpin, tetapi kita sedang mengajari masyarakat untuk merebut kedaulatannya, bahwa pemimpin harus terlebih dahulu mencintai rakyatnya, baru dia menuntut untuk mencintai rakyatnya. Itu yang betul," jelasnya.

"Pesan saya, jangan lemah, kita tetap berjuang, 2019 Indonesia Adil Makmur," tuturnya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved