Pilpres 2019

Isu Politik Genderuwo Kalahkan Program-program Jokowi

LSI Denny JA menyebut program Joko Widodo dalam survei Pilpres 2019 yang digelar November kemarin, dikenal oleh sebagian besar masyarakat.

Isu Politik Genderuwo Kalahkan Program-program Jokowi
TRIBUNNEWS/RIZAL BOMANTAMA
Presiden Joko Widodo saat berpidato sekaligus membuka peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (4/12/2018). 

LINGKARAN Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut program Joko Widodo dalam survei Pilpres 2019 yang digelar November kemarin, dikenal oleh sebagian besar masyarakat.

“Seperti Kartu Indonesia Sehat dikenal 90 persen masyarakat; Kartu Indonesia Pintar dikenal 87,6 persen rakyat; beras sejahtera dikenal 69 persen masyarakat; program keluarga harapan dikenal 66,1 persen; pembangunan infrastruktur 59,4 persen; dan pembagian sertifikat tanah dikenal 55,3 persen masyarakat,” ujar Peneliti Senior LSI Denny JA Rully Akbar di Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/12/2018).

Namun, Rully mengatakan bahwa enam program Jokowi itu belum dikampanyekan secara maksimal, dengan tidak termonitornya program-program itu menjadi ‘trending topic’.

Jika Jadi Tersangka, Habib Bahar bin Smith Bakal Ajukan Praperadilan

Isu yang muncul dan menjadi pembicaraan di masyarakat justru seperti jokowi gratiskan tarif Jembatan Suramadu, Sandiaga Uno melompati makam, ‘Games if Thrones’ Jokowi, janji Esemka, dan empat tahun kepemimpinan Jokowi.

“Ada juga isu politik genderuwo, politik sontoloyo, tampang Boyolali, pembakaran bendera, dan isu hoaks Ratna Sarumpaet, jadi pembicaraan mengenai program tak terlihat signifikan di media monitoring,” paparya.

Menurut Rully Akbar, dengan tidak adanya program-program yang ditawarkan kedua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, membuat elektabilitas keduanya berubah secara signifikan.

GARDA: Tarif Grab ke Pengemudi Lebih Rendah Ketimbang Go-Jek

Oleh karena itu, Rully berpendapat sudah waktunya kedua paslon menyampaikan visi dan misi melalui program-program konkret untuk merebut suara paslon lawan maupun swing-voters.

“Kalau sudah masuk ranah program, maka masyarakat bisa melihat diferensiasi antara kedua paslon, Jokowi diuntungkan karena sedang menjabat sebagai presiden, sehingga bisa menunjukkan prestasinya,” papar Rully.

“Kemudian Prabowo bisa mencari alternatif lain dari kebijakan-kebijakan yang sudah ditelurkan Jokowi, dan yang lebih menarik serta dirasa masyarakat tepat untuk memecahkan suatu persoalan,” sambungnya.

Survei yang dilakukan pada November 2018 itu diikuti 1.200 responden, dengan margin of error 2,9 persen. (Rizal Bomantama)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved