Pilpres 2019

Ferdinand Hutahaean: Pemimpin yang Lalim Tidak Boleh Disembah

Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengajak rakyat Indonesia melawan pemimpin yang lalim.

Ferdinand Hutahaean: Pemimpin yang Lalim Tidak Boleh Disembah
Tribunnews
Ferdinand Hutahaean, Jokowi 

KEPALA Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyoroti penggiringan isu pasca-Reuni Akbar 212.

Dirinya mengajak rakyat Indonesia, khususnya pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, untuk melawan pemimpin lalim.

Ajakan itu disampaikan Ferdinand Hutahaean lewat akun twitternya @Ferdinand Hutahaean _Haean, Jumat (7/12/2018).

Pesan Anies Baswedan untuk Persija: Berjuanglah dengan Gigih, Ngoyo, Ngotot!

Dalam video yang dipostingnya, ajakan itu disampaikan untuk melawan penggiringan opini yang menyebutkan Reuni Akbar 212 sama halnya dengan tidak menghormati pemimpin, yakni Presiden Joko Widodo.

Hal tersebut secara langsung dibantahnya. Karena, menurutnya, walaupun rakyat diwajibkan untuk menghormati dan mencintai pemimpinnya, rakyat memiliki hak untuk menilai tentang pantas atau tidaknya pemimpin diikuti.

"Salam sahabat, belakangan ini ada pihak-pihak yang terus menebar propaganda-opini untuk melemahkan perjuangan kita. Mereka ingin kita lemah, pergerakan kita ingin dilumpuhkan. Mereka mencoba mencuci otak masyarakat dengan membangun narasi, 'jangan jadi rakyat membenci pemimpin, pemimpin harus dicintai, pemimpin harus dihormati'," papar Ferdinand Hutahaean.

Kepala BKN: Jadi PNS Itu Berat, Banyak Menderitanya

"Betul, kita harus menghormati pemimpin, mencintai pemimpin. Tetapi, pemimpin yang seperti apa?" sambungnya.

Dirinya menganalogikan kondisi Bangsa Indonesia saat ini dengan pepatah tua Melayu. Pepatah tersebut mengajarkan untuk mendukung pemimpin yang baik dan melawan pendukung yang lalim.

"Dulu di daerah Melayu ada sebuah pepatah, 'Raja alim, Raja disembah. Raja lalim, Raja disanggah'. Raja yang mana yang harus disembah? Tentu raja yang alim, bukan raja yang lalim atau raja yang zalim. Atau mungkin, ketika situasi ini sekarang kita hidup di zaman Firaun, kita akan menyembah Firaun? Tidak! Tentu kita akan melawan, karena itu kita harus melawan pemimpin yang zalim, pemimpin yang lalim tidak boleh disembah," beber Ferdinand Hutahaean.

Marko Simic: Saya Tercipta untuk Persija

Oleh karena itu, dirinya mengingatkan perjuangan bukan merupakan bentuk kebencian terhadap pemimpin. Ferdinand Hutahaean pun mengajak masyarakat, khususnya pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tetap tegar, karena senyatanya rakyat akan memilih pemimpin yang adil dan mencintai rakyatnya.

"Jadi kalau ada yang ingin melemahkan perjuangan kita, yang ingin melemahkan pergerakan kita dengan membangun narasi seperti itu, jangan ajari rakyat membenci pemimpin. Kita tidak sedang mengajari membenci pemimpin, tetapi kita sedang mengajari masyarakat untuk merebut kedaulatannya, bahwa pemimpin harus terlebih dahulu mencintai rakyatnya, baru dia menuntut untuk mencintai rakyatnya. Itu yang betul," tuturnya.

"Pesan saya, jangan lemah, kita tetap berjuang, 2019 Indonesia Adil Makmur," tambahnya. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved