Aksi 212

Prabowo Kecewa Reuni 212 Tak Diliput Media, Mantan Aktivis 98 Sebut Cerminan Kediktatoran Orde Baru

Mantan Aktivis 98 pun menyebut sikap Prabowo sebagai bentuk cerminan kediktatoran era Orde Baru.

Prabowo Kecewa Reuni 212 Tak Diliput Media, Mantan Aktivis 98 Sebut Cerminan Kediktatoran Orde Baru
tribunnews
Prabowo Subianto. 

KEKECEWAAN Calon Presiden (Capres) Republik Indonesia nomor urut 2, Prabowo Subianto terkait tidak netralnya pemberitaan saat peristiwa Reuni 212 mendapat kritik dari berbagai pihak.

Mantan Aktivis 98 pun menyebut sikap Prabowo sebagai bentuk cerminan kediktatoran era Orde Baru.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Garda Perawat Kebangsaan, Andrew Parengkuan.

Pernyataannya merujuk pidato maupun sesi wawancara Prabowo ketika menghadiri puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional di Hotel Grand Sahid Jaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Rabu (5/12/2018).

Prabowo Subianto Marah dan Menolak Diwawancara, Ia Cuma Mau Meladeni Wartawan dari Media Ini

Meski Ahok Sudah Dipenjara, Ini Alasan Peserta Tetap Ikut Reuni Akbar 212 di Monas

Prabowo menegaskan kekecewaannya terhadap sejumlah media televisi yang tidak hadir merekam momen Reuni 212.

Dirinya pun mempertanyakan kapasitas Prabowo Subianto dalam Reuni Akbar 212 yang digelar di Monumen Nasional (Monas), Gambir, Jakarta Pusat pada Minggu (2/12/2018).

"Kita kembali melihat Prabowo sebagai Capres nomor 02 mengomeli awak media, karena tidak melakukan pemberitaan Reuni 212. Ada apa ini? Bukankah di Reuni tersebut Prabowo dalam kapasitas undangan, mengapa dia sangat berkepentingan dengan pemberitaan media?" ujar Andrew Parengkuan dalam siaran tertulisnya pada Kamis (6/12/2018).

Mantan aktivis 98 itu menilai Prabowo Subianto tidak sepantasnya geram terhadap awak media.

"Mestinya yang berbicara itu panitia, atau jangan-jangan ini sebenarnya kampanye dalam rangka pencapresannya? Bagaimana Bawaslu?" imbuhnya.

Hasil Survei : Elektabilitas Jokowi-Maruf Tak Seperti Petahana Sukses - ILC TvOne Pascareuni 212

Sikap Prabowo itu ditegaskannya menunjukkan potensi sebagai seorang diktator seperti masa Orde Baru.

Hal itu dipandang sangat berbahaya bagi demokrasi yang sudah turut dibangun dengan pengorbanan para aktivis, mahasiswa, jurnalis dan para buruh beserta seluruh rakyat Indonesia.

"Tapi jika melihat sejarah, rasanya hal tersebut tidak mengherankan jika Prabowo berpotensi seperti itu. Bagaimana menjelaskan hilangnya para aktivis yang sampai saat ini belum kembali, adalah hal yang harus bisa dijawab oleh Prabowo, dimana fakta para penculik aktivis adalah Tim Mawar Kopasus, yang merupakan anak buah Prabowo," kata Andrew Parengkuan.

Roy Marten: Tertangkapnya Banyak Selebritas Tanda Indonesia Darurat Narkoba

Oleh karena itu, jika ingin tetap menikmati kebebasan alam demokrasi, dimana kebebasan pers yang bertanggung jawab memperoleh jaminan negara, harus mempertimbangkan kembali potensi kediktatoran Prabowo Subianto.

"Kalau kasusnya seperti ini, memperjuangkan agar Prabowo terpilih menjadi presiden, pada hakikatnya adalah memperjuangkan potensi kediktatoran. Padahal, kita seharusnya memperjuangkan agar demokrasi dan kebebasan pers tetap terjaga," ucapnya. 

Penulis: Dwi Rizki
Editor: murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved