Pernyataan Ahmad Basarah Soeharto Bapak Koruptor, MHS: Bandingkan Era Pemerintahan saat Ini

Dirinya meminta Ahmad membandingkan era pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Soeharto dengan Joko Widodo saat ini.

Pernyataan Ahmad Basarah Soeharto Bapak Koruptor, MHS: Bandingkan Era Pemerintahan saat Ini
TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA
Wasekjen PDI Perjuangan Ahmad Basarah (baju hitam), di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (1/12/2018). 

Palmerah, Warta Kota -- Pernyataan politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ahmad Basarah yang mengatakan Soeharto adalah bapak koruptor disesalkan Komandan Nasional Brigade Hasta Mahardika Soeharto (HMS) Indonesia Andy Kodrat.

Dirinya meminta Ahmad membandingkan era pemerintahan Presiden Republik Indonesia, Soeharto dengan Joko Widodo saat ini.

Karena menurutnya, era pemerintahan Presiden Soeharto sebagai Presiden RI dirasakan cukup aman, tentram dan damai.

Roda pemerintahan pun katanya berjalan sesuai amanah Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila.

"Kondisi tersebut sangat berbanding terbalik dengan kondisi dan kenyataan yang terjadi saat ini. Bandingkan era pemerintahan saat ini, coba tanyakan kepada masyarakat, kalo mau jujur dengan syarat tanpa intimidasi, toh kita ingin mendapatkan fakta real (nyata) demi kebaikan bangsa ini ke depannya," jelasnya dalam siaran tertulis pada Senin (3/12/2018).

Tidak hanya stabilitas negara dan kesejahteraan, dirinya meminta Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDIP sekaligus anggota MPR RI itu mengenang sosok Soeharto kembali.

Soeharto yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan itu katanya sangat lekat terhadap petuah dan filosofi kehidupan adat jawa dan sangat memuliakan orangtuanya, khususnya ibunda beliau.

Nasehat orangtuanya dalam tutur petuah jawa pun diungkapkan Andy sering kali digunakan Soeharto dalam pidato politisnya.

Petuah tersebut di antaranya, 'Mikul Dhuwur Mendem Jero', yakni Mengangkat kebaikan orang setinggi-tingginya dan mengubur keburukan orang lain sedalam-dalamnya.

"Dasar filosofi ini yang menjadikan pak Harto memberikan Abolisi kepada Bung Karno dan menyematkan Gelar Proklamator, walaupun pak Harto banyak mendapatkan cemooh, pertentangan politik dan sebagainya yang justru berasal dari kawan-kawan politik dan kubu oposisi Bung Karno saat itu," ungkap Andy.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved