Pesawat Jatuh

Hotman Paris Hutapea Dilarang Gunakan Hasil Investigasi KNKT Sebagai Bukti di Persidangan

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mempersilakan Hotman Paris Hutapea melanjutkan gugatan tersebut.

Hotman Paris Hutapea Dilarang Gunakan Hasil Investigasi KNKT Sebagai Bukti di Persidangan
Kolase foto Hotman Paris Hutapea (Instagram @hotmanparisofficial) 

PENGACARA kondang Hotman Paris Hutapea akan membantu keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air dengan registrasi PK-LQP di perairan Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018, untuk menggugat Boeing.

Melalui bantuan tim pengacara dari firma hukum internasional Ribbeck Law Chartered, Hotman Paris Hutapea mengatakan sidang pertama dijadwalkan pada 17 Januari 2019 mendatang.

Menanggapi hal tersebut, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mempersilakan Hotman Paris Hutapea melanjutkan gugatan tersebut.

Mantan Dirjen Otda Usul Pemerintah Bikin Aturan Kepala Daerah Dilarang Mundur

Namun, KNKT melarang pengacara kondang itu menggunakan hasil investigasi KNKT sebagai bukti hukum di persidangan.

"Silakan, setiap warga negara berhak memperoleh keadilan lewat hukum. Tapi, laporan awal investigasi KNKT tak boleh digunakan sebagai bukti pengadilan," ujar Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko, Jumat (30/11/2018).

Sebelumnya, Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengatakan hal serupa, mengacu pada Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Kemenag Bikin Kartu Nikah, Fahri Hamzah: Mungkin Kalau Dipakai Nonton Bioskop Dapat Diskon 20 Persen

Dalam pasal 359 dikatakan: (1) Hasil investigasi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses peradilan; (2) hasil investigasi yang bukan digolongkan sebagai informasi rahasia, dapat diumumkan kepada masyarakat.

"Apabila mau melakukan investigasi di pengadilan, mungkin penyidiknya mencari data sendiri. Tidak boleh meminta data KNKT, misal data FDR atau CVR, itu tidak boleh," jelasnya seusai merilis laporan awal investigasi di Gedung KNKT, Jakarta Pusat, Rabu (28/11/2018).

Diberitakan Kontan, Jumat (16/11/2018 lalu, The Boeing Company digugat dua firma hukum Amerika Serikat (AS) setelah kecelakaan Lion Air JT 610. Gugatan diajukan Colson Hicks Eidson dan BartlettChen LLC di pengadilan Circuit Court of Cook County, Illinois, Amerika Serikat.

Hamil 12 Minggu, Nikita Mirzani Ngidam Cilok dan Tahu Gejrot

"Gugatan ini kami ajukan atas nama klien kami, yaitu orangtua dari Rio Nanda Pratama, yang tewas ketika pesawat Boeing 737 MAX 8 jatuh ke laut. Pratama adalah seorang dokter muda dalam perjalanan pulang dari sebuah konferensi di Jakarta dan hendak menikah pada tanggal 11 November 2018," tulis Curtis Miner dari Colson Hicks Eidson dalam keterangan resminya, Kamis (15/11/2018).

Kedua firma hukum itu menggugat Boeing karena penerbangan JT 610 yang mengalami kecelakaan pada 29 Oktober 2018 memakai pewasat Boeing 737 MAX.

Sedangkan pada 7 November 2018, Federal Aviation Administration (FAA) merilis Emergency Airworthiness Directive untuk Boeing 737 MAX. FAA menilai kondisi Boeing 737 MAX tak aman, dan diduga begitu juga kondisi pada Boeing 737 MAX lainnya. (Ria Anatasia)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved