Operasi Tangkap Tangan

KPK Ciduk Dua Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di Kos-kosan

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan menetapkan dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai tersangka penerima suap.

KPK Ciduk Dua Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di Kos-kosan
Warta Kota/Henry Lopulalan
Suasana Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di Jalan Ampera, Jakarta Selatan, Rabu (28/11/2018), sesudah KPK melakukan operasi tangkap tangan kepada hakim PN Jaksel, panitera, dan advokat. 

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan menetapkan dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai tersangka penerima suap.

Hakim Iswahyu Widodo (IW) dan Irwan (I) ditetapkan sebagai tersangka penerima suap terkait putusan perkara perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tahun 2018.

Selain kedua hakim tersebut, KPK juga menetapkan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Timur Muhammad Ramadhan (MR) sebagai tersangka penerima suap.

Anies Baswedan Targetkan Tanggul yang Longsor di Kalisari Rampung Satu Bulan

Sebagai pihak pemberi, KPK menetapkan Arif Fitrawan (AF) selaku advokat, dan Martin P Silitonga (MPS) yang saat ini sedang dalam penahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan atas dugaan pelanggaran pidana umum.

"Pada Selasa 27 November 2018 pukul 19.00 WIB, tim KPK mengamankan AF dan seorang advokat yang merupakan rekannya di sebuah restoran cepat saji di daerah Tanjung Barat," jelas Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di kantornya, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/11/2018).

Kemudian, lanjut Alexander Marwata, secara paralel tim lainnya mengamankan MR di kediamannya di daerah Pejaten timur.

Tak Ada Izin, Anies Baswedan Bakal Audit Bangunan di Lokasi Longsor Kalisari

Bersama MR, diamankan juga seorang petugas keamanan. Di rumah MR, tim KPK mengamankan uang yang diduga terkait suap dalam perkara ini, sebesar SGD 47 ribu.

"Kemudian pada pukul 23.00 WIB, dua tim KPK bergerak masing-masing mengamankan kedua
hakim IW dan I di kos-kosan masing-masing di Jalan Ampera Raya," ungkap Alexander Marwata.

KPK lalu menetapkan Iswahyu Widodo dan Irwan sebagai tersangka penerima suap bersama Muhammad Ramadhan, karena diduga menerima suap sekira Rp 650 juta dalam bentuk 47 ribu dolar Singapura (sekira Rp 500 juta), dan Rp 150 juta dari Arif Fitrawan dan Martin P Silitonga.

Anies Baswedan Kasih Pilihan: Mau Longsor Atau Cari Tempat Lain yang Lebih Aman?

"Diduga sebagai pemberi adalah advokat AF dan MPS yang saat ini sedang dalam penahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, atas dugaan pelanggaran pidana umum," jelas Alexander Marwata.

Terhadap pihak yang diduga penerima, Iswahyu Widodo, Irwan, dan Muhammad Ramadhan disangkakan melanggar pasal 12 huruf c dan/atau pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pasal itu menyebut mengenai hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili, dengan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Fahri Hamzah: Jokowi Pemegang Sumbu Kompor Terbesar, Saya Paling Bawah

Sedangkan sebagai pihak yang diduga pemberi, Arif Fitrawan dan Martin P Silitonga disangkakan melanggar pasal 6 ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pasal itu menyebut orang yang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili, dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 750 juta. (Ilham Rian Pratama)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved