Bea Cukai Gempur Vape Cair Tak Bercukai

Lewat Operasi Gempur, aparat Bea Cukai Bekasi tak hanya menggempur rokok, tapi juga vape cair yang tidak berpita cukai.

Bea Cukai Gempur Vape Cair Tak Bercukai
Warta Kota/Muhammad Azzam
Aparat Bea Cukai Bekasi menggelar Operasi Gempur yang menyasar minuman keras, rokok, dan vape cair yang tidak berpita cukai. Hasil operasi diungkapkan dalam keterangan pers, Rabu (28/11/2019). 

OPERASI Gempur Bea Cukai Jawa Barat mulai menyasar ke likuid vape yang tidak berpita Bea Cukai.

Aturan itu sudah dijalankan per Oktober 2018 lalu. Dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, ditetapkan tarif cukai pada likuid vape sebesar 57%.

"Jadi kita informasikan, objek cukai tidak hanya pada rokok saja tetapi likuid vape juga dikenakan cukai. Dalam operasi kali ini kami juga menyasar cukai vape. Bagi perusahaan yang tidak menerapkan itu, akan kami tindak," kata Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Dirjen Bea dan Cukai Jawa Barat Bier BK, di kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) A Bekasi, pada Rabu (28/11/2018).

Bier mengatakan ditetapkan cukai pada vape itu dikarenakan dalam kandungan liluid itu mengandung bahan baku tembakau, yang memang harus dikenakan cukai.

Selain memang bertujuan untuk peningkatan pemasukkan negara.

"Dalam aturan jelas tembakau itu kekayaan negara dan masuk kategori barang kena cukai (BKC) itu jelas aturannya," ungkapnya.

Ia menambahkan pita cukai pada likuid vape itu sama seperti rokok pada umumnya.

"Sama bentuknya, cuman kalau di likuid ini ditempelnya di botol ataupun ditutu botol itu," ucapnya.

Pihaknya menghimbau agar produsen likuid vape segera melengkapinya dengan pita Bea Cukai, jika tidak akan disita dan dikenakan hukum pidana.

"Prinspinya bahwa kelengkapan pita cukai itu harus ada. Kami akan lalukan sosialisasi ke masyarakat, produsen, asosiasi vape, maupun toko-toko agar membeli likuid yang ada pita cukai-nya. Jika tidak akan dapat disita," paparnya.

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved