Kurs Rupiah

Rupiah Menguat Tujuh Poin ke Posisi Rp 14.533 pada Senin Pagi

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak menguat sebesar tujuh poin ke posisi Rp14.533 dibanding

Rupiah Menguat Tujuh Poin ke Posisi Rp 14.533 pada Senin Pagi
Kompas/Hendra A Setyawan
Ilustrasi kasir menghitung uang pecahan seratusan rupiah. 

NILAI tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (26/11/2018) pagi bergerak menguat sebesar tujuh poin ke posisi Rp14.533 dibandingkan sebelumnya Rp14.540 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar rupiah dalam perdagangan di pasar spot antarbank pada Jumat (23/11/2018) sore berakhir menguat sebesar 36 poin menjadi Rp 14.544, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.580 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (23/11) juga mencatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp14.552 dibanding sebelumnya (22/10) di posisi Rp14.592 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Jumat, menilai sentimen negatif dari dalam negeri tidak terlalu menghalangi laju rupiah untuk kembali menguat.

Ia menjelaskan bahwa imbas kenaikan mata uang euro dimanfaatkan rupiah untuk bergerak naik.

Penguatan euro seiring adanya persetujuan antara Inggris dan Uni Eropa terkait dengan Brexit.

Di pasar global kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, karena investor percaya bahwa Inggris dan Uni Eropa (UE) akan mencapai kesepakatan sebelum Brexit berlaku.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pada Kamis (22/11) sore bahwa dia akan melakukan "segala yang mungkin" untuk memberi warga Inggris kesepakatan Brexit yang telah "dalam genggaman."

Inggris dan Uni Eropa pada prinsipnya setuju untuk teks yang menetapkan hubungan masa depan mereka sebelum pertemuan puncak pada Minggu (25/11/2018), menurut laporan media.

Mata uang euro dan pound melonjak menyusul berita tersebut, yang menempatkan dolar AS berada di bawah tekanan.

Di sisi lain, ada pula sejumlah kalangan yang menilai penguatan euro hanya sementara karena mempertimbangkan arah kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB).

"ECB October Meeting Minutes yang akan memberikan indikasi arah kebijakan moneter ECB terutama dalam membantu perbankan untuk menopang pertumbuhan ekonomi Zona Euro," ujar Reza.

Ditopang hasil lelang SUN

Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat sebesar 10 poin ke posisi Rp14.588 dibandingkan sebelumnya Rp 14.598 per dolar AS, menyusul laporan hasil lelang Surat Utang Negara (SUN).

"Rupiah menguat terhadap dolar AS seiring hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang cukup baik, sehingga menjadi sentimen positif bagi rupiah," kata Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, di Jakarta, Kamis.

Ia mengemukakan lelang SUN pada Rabu (21/11), pemerintah menyerap senilai Rp15 triliun dari total penawaran masuk sebesar Rp41,62 triliun.

Ia menambahkan apresiasi rupiah juga terbantu oleh sentimen eksternal mengenai kemungkinan terjadinya kompromi antara Italia dan Komisi Uni Eropa untuk memutuskan besaran defisit belanja negara Italia tahun depan.

"Situasi itu membuat mata uang euro dan pound sterling menguat terhadap dolar AS, dan berdampak positif pada sejumlah mata uang di kawasan Asia," katanya.

Ia memproyeksikan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini (22/11) kemungkinan bergerak di kidaran level Rp14.550-Rp14.610 per dolar AS dengan kecenderungan menguat.

Sementara itu, Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, pergerakan rupiah relatif masih terbatas menyusul masih adanya sentimen perang dagang AS dan Tiongkok serta antisipasi gagalnya titik temu kesepakatan dagang dalam pertemuan G-20.

"Situasi itu masih akan berdampak positif terhadap dolar AS ke depannya," katanya," katanya. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved