Info Kementerian

Untuk Menjadi Negara Maju, Indonesia Butuh 4 Juta Wirausaha Baru

Bila dihitung dengan populasi penduduk Indonesia sekitar 260 juta jiwa, jumlah wirausaha nasional baru mencapai 8,06 juta jiwa.

Untuk Menjadi Negara Maju, Indonesia Butuh 4 Juta Wirausaha Baru
Dok. Humas Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan sambutannya saat menghadiri Pesta Retail Nasional PT HM Sampoerna di Tangerang, Banten, 22 November 2018. 

Indonesia membutuhkan sedikitnya 4 juta wirausaha baru untuk turut mendorong penguatan struktur ekonomi. Sebab, saat ini rasio wirausaha di dalam negeri masih sekitar 3,1 persen dari total populasi penduduk.

“Maka itu, agar Indonesia menjadi negara maju, pemerintah terus memacu pertumbuhan wirausaha termasuk industri kecil dan menengah (IKM), sekaligus meningkatkan produktivitas dan daya saingnya di era digital,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Pesta Retail Nasional di ICE BSD, Tangerang, Kamis (22/11) malam.

Meskipun rasio wirausaha di Indonesia sudah melampaui standar internasional, yakni sebesar 2 persen, Indonesa perlu menggenjot lagi untuk mengejar capaian negara tetangga. Singapura misalnya, saat ini sudah mencapai angka 7 persen, sedangkan Malaysia 5 persen. Bila dihitung dengan populasi penduduk Indonesia sekitar 260 juta jiwa, jumlah wirausaha nasional mencapai 8,06 juta jiwa.

e-Smart IKM

Menperin menjelaskan, dalam menghadapi era revolusi industri 4.0, Kemenperin telah menggagas platform e-commerce bertajuk e-Smart IKM. Ini sebagai salah satu upaya pemerintah membangun sistem database IKM yang diintegrasikan melalui beberapa marketplace di Indonesia. Sejak diluncurkan Januari 2017, peserta e-Smart IKM lebih dari 4.000 pelaku usaha dengan total omzet Rp1,3 miliar.

Pemerintah juga menggulirkan program Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif). Ini merupakan program dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk penyediaan layanan perbankan atau layanan keuangan lainnya melalui kerja sama dengan pihak lain (agen bank), dan didukung penggunaan sarana teknologi informasi.

“Laku Pandai juga salah satu platform digital untuk jualan tanpa barang kelihatan, seperti voucher pulsa telepon atau listrik. Ini bisa menambah profit pelaku usaha kita,” imbuhnya.

Menperin juga memberikan apresiasi kepada PT HM Sampoerna yang telah memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM) melalui program Sampoerna Retail Community (SRC). Hingga kini, SRC telah mencakup 90 ribu peritel dari 34 provinsi dan 480 kabupatan/kota di Indonesia.

”Dengan pengembangan platform digital, maka SRC juga tidak perlu takut berkompetisi dengan pasar modern atau mini market. Kemampuan bersaing yang sudah ada, harus terus dikembangkan. Dengan pemanfaatan teknologi digital, ada yang omzetnya sampai naik 8 kali lipat,” paparnya.

Data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), pertumbuhan industri ritel pada kuartal I tahun 2018 mencapai 7-7,5 persen dan berkontribusi hingga 60 persen untuk perekonomian nasional. Peritel berbasis UKM juga memberi dampak terhadap kualitas hidup masyarakat di sekitarnya, antara lain melalui penyerapan tenaga kerja.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto berfoto bersama Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri (tengah) serta Presiden Direktur PT HM Sampoerna, Midaugas Trumpaitis (kanan) saat menghadiri Pesta Retail Nasional PT HM Sampoerna di Tangerang, Banten, 22 November 2018.
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto berfoto bersama Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri (tengah) serta Presiden Direktur PT HM Sampoerna, Midaugas Trumpaitis (kanan) saat menghadiri Pesta Retail Nasional PT HM Sampoerna di Tangerang, Banten, 22 November 2018. (Dok. Humas Kementerian Perindustrian)
Halaman
123
Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved