Diduga Bawa Kabur Dokumen dan Caplok Nama RN PAS Eggi Sudjana, Jalih Pitoeng Terancam Dipolisikan

Mantan Sekretaris Relawan Nasional Prabowo-Sandi terancam dipolisikan lantaran membawa kabur sejumlah dokumen penting organisasi.

Diduga Bawa Kabur Dokumen dan Caplok Nama RN PAS Eggi Sudjana, Jalih Pitoeng Terancam Dipolisikan
Warta Kota/Hamdi Putra
Pitra Romadoni Nasution (paling kiri) selaku Ketua Bidang Hukum Relawan Nasional Prabowo-Sandi (RN PAS) besutan Eggi Sudjana. 

Muhidin alias Jalih Pitoeng selaku mantan Sekretaris Relawan Nasional Prabowo-Sandi terancam dipolisikan lantaran membawa kabur sejumlah dokumen penting organisasi yang dikomandoi oleh Eggi Sudjana tersebut.

Informasi ini disampaikan oleh Ketua Bidang Hukum RN PAS, Pitra Romadoni Nasution dalam keterangan persnya di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (19/11/2018).

Selain diduga membawa kabur dokumen keanggotaan, Jalih Pitoeng juga diduga mencaplok nama dan anggota RN PAS dengan mendirikan organisasi yang diberi nama G-RN PAS. Akibatnya terjadi dualisme dan kekisruhan di tubuh RN PAS besutan Eggi Sudjana.

Oleh karena itu, Pitra Romadoni Nasution meminta dan memperingatkan Jalih Pitoeng untuk menyerahkan dokumen yang dimaksud dalam waktu 3 kali 24 jam.

"Apabila dalam waktu 3 kali 24 jam tidak menyerahkan dokumen yang dimaksud maka dengan terpaksa saya saya selaku Ketua Bidang Hukum RN PAS akan melakukan tindakan hukum dengan melaporkan yang bersangkutan telah melakukan penggelapan berupa dokumen penting yang seharusnya dia tidak ada hak lagi terhadap dokumen tersebut dan secepatnya dia serahkan ke Pengurus Pusat RN PAS melalui Ketua Umum Eggi Sudjana dan Sekjennya Sang Alang," ujar Pitra Romadoni Nasution.

Saat ini, Muhidin alias Jalih Pitoeng sudah dipecat dari kepengurusan RN PAS Eggi Sudjana. Posisinya sebagai Sekretaris digantikan oleh Sang Alang yang merupakan pencipta lagu 2019GantiPresiden.

Di lain pihak, Jalih Pitoeng membantah apa yang dituduhkan terhadapnya. Ia mengaku sama sekali tidak membawa dokumen apapun seperti yang dikatakan oleh Pitra Romadoni Nasution.

"Nggak ada. Dokumen apa ya? Nggak ada dokumen RN PAS (sama saya)," tutur Jalih Pitoeng.

Mengenai dualisme, ia mengaku membentuk organisasi baru dengan nama GRN PAS atas permintaan dan desakan pengurus daerah yang tidak puas dengan kebijakan Eggi Sudjana.

"Saya juga boleh menggunakan nama itu karena saya juga pendiri dan inisiatornya. Saya ingin menyampaikan karena ini sudah terbentuk GRN PAS lahir atas permintaan teman-teman di berbagai provinsi yang menjalin komunikasi dengan saya. Atas kebijakan kebijakan yang kurang populis menurut mereka, mereka mengambil sikap untuk membentuk gerbong baru. Kalau caplok itu kan punya orang diambil. Ini kan enggak. Saya juga berhak membawa nama itu," kata Jalih Pitoeng.

Penulis: Hamdi Putra
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved