BPJS Kesehatan Defisit, Sutopo Ingatkan Rakyat Harus Sehat

KEPALA Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho telah lama menjadi penyintas kanker paru-paru

BPJS Kesehatan Defisit, Sutopo Ingatkan Rakyat Harus Sehat
Kompas TV
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa (7/8/2018). 

KEPALA Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho telah lama menjadi penyintas kanker paru-paru stadium 4B.

Dirinya pun mengingatkan kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik, termasuk mencegah defisit keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan.

Hal tersebut disampaikan Sutopo lewat akun twitternya @Sutopo_PN; pada Minggu (18/11/2018) malam. Berbeda dengan postingannya yang terkait dengan bencana alam dari pelosok Nusantara, Sutopo kali ini memposting sebuah ilustrasi penyakit kronis yang memicu defisit keuangan BPJS Kesehatan dalam dua tahun terakhir.

"Inilah 8 penyakit kronis yang membebani BPJS. Penyakit kronis di masyarakat terus meningkat karena terkait gaya hidup tidak sehat. Ayolah netizen, raihlah hidupmu yang sehat. Biarlah kami yang sudah terlanjur sakit kronis ini yang merasakan. Anda jangan. Anda harus sehat!!," tulis Sutopo.

Sementara dalam ilustrasi yang berasal dari CNBC Indonesia, terdapat delapan penyakit kronis yang membebani keuangan BPJS Kesehatan hingga defisit sebesar Rp 16,5 triliun hanya dalam depan bulan yakni Januari hingga Agustus 2018.

Delapan penyakit tersebut antara lain, jantung sebesar Rp 6,67 triliun atau 51,99 persen, kanker sebesar Rp 2,11 triliun atau 16,46 persen, stroke sebesar Rp 1,62 triliun atau 12,65 persen dan gagal ginjal sebesar Rp 1,5 triliun atau 11,72 persen dari total defisit.

Selain itu, penyakit thalasamia menghabiskan anggaran sebesar Rp 298 miliar atau 1,26 persen, hepatitis sebesar Rp 209 miliar atau 1,83 persen, leukimia sebesar Rp 199,3 miliar atau 1,55 persen dan haemophilia Rp 213,95 miliar atau 1,67 persen.

Beragam tanggapan positif pun dituliskan masyarakat dalam postingan Sutopo. Masyarakat kembali mendoakan kesembuhan dan memberikan semangat agar Sutopo dapat kembali bekerja, menyampaikan kabar bencana.

Menurut Sutopo, hidup tidak ditentukan oleh berapa lama seseorang hidup, tetapi seberapa berguna bagi orang lain. Hal itu yang dilakukannya, walaupun diungkapkannya dokter mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki waktu tersisa atas penyakit kanker paru-paru yang baru diketahuinya sejak 18 Januari 2018 lalu.

"Life isn’t determined by how long we live, but how useful we are to other people. That’s what I do. Although the doctors say that I don’t have so much time left, in my last days, I want to try to do good, to be useful'. Tetaplah selalu semangat. Jadilah orang baik," tulis Sutopo.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved