Pilpres 2019

Grace Natalie Diminta Segera Minta Maaf dan Tidak Menyepelekan Masalah Agama

Egi Sudjana menuntut agar Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie, segera mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Grace Natalie Diminta Segera Minta Maaf dan Tidak Menyepelekan Masalah Agama
Instagram @gracenat
Kolase foto Ketua Umum PSI, Grace Natalie dan Elidanetti selaku pengacara PPMI dari kantor hukum Egi Sudjana. 

TIM pengacara Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) dari kantor hukum Eggi Sudjana menuntut agar Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, segera mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada bangsa Indonesia.

Tuntutan itu disampaikan oleh Elidanetti selaku salah satu kuasa hukum PPMI sekaligus Bendahara Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) terkait penolakan Grace Natalie terhadap Perda Keagamaan seperti Perda Syariah maupun Perda Injil.

"Untuk Grace Natalie tolong dong segera mengakui kesalahannya dan minta maaf. Sebagai manusia berbeda dengan hewan, punya rasa, yaitu saling menghargai. Anda sudah menganggap sepele masalah agama. Kalau mau cari panggung jangan merendahkan agama apapun," ujar Elidanetti kepada Warta Kota, Sabtu (17/11/2018).

Menurutnya setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga dalam beberapa hal tidak bisa digeneralisir begitu saja.

Baca: Wapres Jusuf Kalla Orasi Ilmiah di Unisba, Sejumlah Mahasiswa Tutup Mulut

Ia mencontohkan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang mendapatkan otonomi khusus dari negara berupa Daerah Istimewa di samping DIY dan DKI Jakarta.

"Di Aceh itu ada yang namanya Qanun, yaitu sejenis Peraturan Daerah yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat Aceh," tutur Elidanetti.

Dalam pengetahuannya terdapat beberapa daerah yang menerapkan Perda Syariah seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, Banten, Jawa Barat dan beberapa provinsi lainnya.

Bentuknya pun tidak selalu berwujud Perda, bisa Instruksi Kepala Daerah dan bisa juga berbentuk Surat Edaran.

Khusus Perda Syariah biasanya mengatur tentang kesusilaan, larangan berbuat maksiat seperti prostitusi dan perjudian, aturan berpakaian, zakat, infaq dan sadaqah, larangan ajaran tertentu, kewajiban membaca Al Quran untuk murid sekolah dan calon pengantin dan masih banyak lagi.

"Perda keagamaan seperti Perda Syariah itu dibuat bukan sebagai bentuk intoleransi. Nah, ini yang harus dipahami oleh Grace Natalie. Perda Syariah seperti aturan berpakaian muslimah misalnya, sifatnya moderat dan hanya berlaku untuk umat Islam. Tujuannya adalah untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal, melindungi masyarakat dalam bidang keagamaan, moralitas dan ketertiban sosial," ucap Elidanetti.

Halaman
12
Penulis: Hamdi Putra
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved