Pilpres 2019

Pengamat: Jokowi Protes Pakai Istilah Politikus Sontoloyo dan Politik Genderuwo

Hamdi Muluk menyebut, hal itu menunjukkan Jokowi melontarkan protes terhadap para politikus yang tidak memegang etika berpolitik.

Pengamat: Jokowi Protes Pakai Istilah Politikus Sontoloyo dan Politik Genderuwo
ISTIMEWA
Presiden Jokowi saat berpidato di Festival11 yang digelar Partai Solidaritas Indonesia (PSI), di ICE BSD, Tangerang, Minggu (11/11/2018). 

PAKAR Psikologi Politik UI Hamdi Muluk menyebut, periode masa kampanye Pilpres 2019 belum berada pada tahap adu ide dan gagasan.

Terlebih, saat ini muncul jargon politik untuk saling menjatuhkan, seperti penggunaan istilah politikus 'sontoloyo' dan politik 'genderuwo', yang dilontarkan oleh calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo.

Lalu, istilah 'tampang Boyolali' yang digunakan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto.
Jika dilihat dari prespektif psikologi politiknya, kata Hamdi Muluk, jargon-jargon politik seperti politikus 'sontoloyo' dan politik 'genderuwo' merupakan bentuk protes Jokowi.

Baca: Hadapi Surya Paloh dan Partai Nasdem, Rizal Ramli Klaim Dibela 1.520 Pengacara

Hamdi Muluk menyebut, hal itu menunjukkan Jokowi melontarkan protes terhadap para politikus yang tidak memegang etika berpolitik.

"Jokowi merasa banyak politisi tak memegang etika politik yang membuat demokrasi kita lebih elegan," kata Hamdi Muluk dalam diskusi bertema 'Perang Diksi Antar Kandidat' yang digelar Populi Center di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Kamis (15/11/2018).

Lebih lanjut Hamdi Muluk menilai, protes Jokowi itu tidak bisa dilepaskan dari banyaknya fitnah dan hoaks yang selama ini bergulir dalam menyerang kubu petahana.

Baca: Prabowo Bilang 99 Persen Rakyat Indonesia Hidup Pas-pasan, Moeldoko: Pernah ke Kampung Enggak?

Terlebih, selama ini Jokowi selalu diisukan antek PKI, pro terhadap pemerintah Cina, anti-Islam, dan isu masuknya jutaan tenaga kerja asing ke Indonesia.

"Kebetulan dia merasa serangan hoaks dan fitnah banyak mengarah pada dirinya, dan dia mulai protes, maka muncullah politisi sontoloyo," ulas Hamdi Muluk.

Di sisi lain, Hamdi Muluk menyebut, kedua istilah tersebut digunakan Jokowi untuk memberikan peringatan kepada para lawan politiknya.

Baca: APBD Melimpah, DPRD Sarankan Anies Baswedan Bangun Tiga Atau Empat ITF di Jakarta

Sebagai petahana, lanjut Hamdi Muluk, Jokowi berharap kontestasi Pilpres 2019 tidak diisi dengan fitnah atau hoaks, melainkan sebagai wadah pertarungan ide dan gagasan.

"Selain protes bisa juga warning atau kode keras. Janganlah politik kita seperti itu. Lebih baik adu gagasan, adu program," papar Hamdi Muluk. (Fransiskus Adhiyuda)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved