Kasus yang Dialami Baiq Nuril dalam Kacamata Psikologi Forensik

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, dalam kasus ini, menyoroti Rafi, putra Bu Nuril, yang pasti ikut terluka.

Kasus yang Dialami Baiq Nuril dalam Kacamata Psikologi Forensik
Kompas.com
Baiq Nuril menyatakan, untuk pak Presiden, saya cuma minta keadilan, karena saya di sini cuma korban. Apa saya salah kalau saya mencoba membela diri saya dengan cara-cara saya sendiri? Saya minta keadilan. 

Baiq Nuril Maknun (36), perempuan korban pelecehan seksual justru divonis bersalah melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Nuril yang divonis bebas atas kasus pelanggaran UU ITE pada 2017 lalu oleh PN Mataram, harus kembali masuk penjara karena Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi Kejaksaan Tinggi NTB dengan vonis 6 bulan penjara dan denda Rp 500 Juta rupiah.

Karenanya, Nuril akan menjalani sanksi hukuman di dalam penjara karena ia telah menyebar rekaman mesum kepala sekolah tempatnya bekerja.

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, dalam kasus ini, menyoroti Rafi, putra Bu Nuril, yang pasti ikut terluka.

"Lalu bagaimana nasib anak dan emak itu ke depannya?," kata Reza kepada Warta Kota, Kamis (15/11/2018).

Sebab katanya Rafi masih sangat membutuhkan asuhan Nuril sebagai ibu.

"Di Jerman, narapidana dapat mengunjungi anak mereka pada pagi hari, lalu kembali ke balik jeruji besi pada jam yang telah ditentukan. Selama berada di luar penjara, narapidana sekaligus emak tersebut dapat melepas anak mereka ke sekolah serta mengerjakan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan pengasuhan anak. Sebagaimana fasilitas bilik asmara yang sesungguhnya diadakan untuk mempersiapkan narapidana beberapa waktu, sebelum menyelesaikan masa hukumannya, praktik semacam di Jerman itu juga dapat diselenggarakan sebagai bentuk program resosialisasi bertahap si narapidana," papar Reza, yang juga dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Ia menjelaskan pelajaran penting dari penelitian-penelitian yang dikutip di atas adalah bahwa mengasuh anak di dalam penjara, ataupun menjalani status terpidana sembari tetap menjalankan peran pengasuhan, ternyata memberikan efek rehabilitasi bagi narapidana perempuan.

"Apa pun argumentasinya, penjara pada dasarnya bukan tempat yang ideal untuk membesarkan anak. Tapi, mari realistis. Memberikan kesempatan kepada terpidana perempuan untuk merawat anak mereka di dalam penjara, tidak hanya merupakan jawaban tepat atas ketentuan Undang-Undang Perlindungan Anak. Lebih konkretnya, kesempatan sedemikian rupa berpotensi menghasilkan manfaat positif bagi terpidana perempuan dan anak yang ia lahirkan," kata Reza.

"Bahkan Ia sekaligus akan membawa warna baru atau bahkan menjadi katalisator, bagi perubahan budaya penjara yang kadung diidentikkan sebagai lingkungan brutal," tambah Reza lagi.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved