Pilpres 2019

Dituding Tak Kampanyekan Prabowo-Sandi, Partai Demokrat: Siapa yang Tidak Takut Hadapi Kematian?

PARTAI Demokrat angkat bicara soal tudingan tidak aktif mengampanyekan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilu Presiden 2019.

Dituding Tak Kampanyekan Prabowo-Sandi, Partai Demokrat: Siapa yang Tidak Takut Hadapi Kematian?
WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menutup pembekalan calon anggota legislatif DPR RI dan Konsolidasi Partai Demokrat se-Indonesia, di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2018). 

PARTAI Demokrat angkat bicara soal tudingan tidak aktif mengampanyekan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilu Presiden 2019.

Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon mengatakan, partainya saat ini sedang fokus menghadapi Pemilu Legislatif 2019.

"Tiap partai hari ini pasti berpikir bagaimana menyelamatkan rumah tangganya ini tetap hidup di 2019," katanya, Rabu (14/11/2018).

Baca: Putar Lagu Kebangsaan Korut Saat Korsel Bartanding Lawan Yordania, AFC Minta Maaf

Sebab, menurut Jansen Sitindaon, ambang batas parlemen saat ini cukup tinggi, yakni 4 persen. Banyak partai terancam tidak bisa mengirimkan kadernya ke parlemen karena tidak lolos Parliamentary Threshold (PT).

"Karena memang PT 4 persen tinggi sekali, dan risikonya partai almarhum di tingkat nasional. Risikonya itu kematian. Siapa yang tidak takut menghadapi kematian? Mau tidak mau tiap partai dengan segala cara dan potensi yang ada, memaksimalkan kerja-kerja lima bulan ke depan ini agar lolos 4 persen dan partai tetap hidup," paparnya.

Di satu sisi, Partai Demokrat tidak mendapatkan efek ekor jas dari mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dalam artian, ikut mengampanyekan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tidak berdampak signifikan terhadap meningkatnya elektabilitas Partai Demokrat.

Baca: Soal Dana Kelurahan, Sandiaga Uno Ajak Masyarakat Berprasangka Baik kepada Pemerintah

Ia mengatakan, hanya Partai Gerindra dan PDIP yang mendapatkan efek ekor jas, karena kadernya menjadi capres, yakni Prabowo Subianto dan Jokowi.

"Jadi tanpa mendukung Prabowo-Sandi pun angka kami sudah segitu dari kemarin. Membandingkannya sederhananya seperti itu," ujarnya.

Akan lebih fair, menurut Jansen Sitindaon, bila Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ikut mengampanyekan Partai Demokrat dan partai pengusung lainnya selain Partai Gerindra. Sehingga, menurutnya ada simbiosis mutualisme antara capres-cawapres dengan partai pengusungnya.

"Mengampanyekan Pak Prabowo, begitu juga Pak Prabowo mutar-mutar Indonesia juga kan? Jadi materi keberhasilan Pak SBY harus ikut juga disampaikan ke publik. Bahkan, lebih jauh lagi jangan juga sungkan mengatakan ke basis-basis pemilih yang mereka datangi itu, jangan lupa misalnya pilih demokrat atau PAN atau PKS. Karena memang suka atau tidak, hari ini publikasi paling tinggi kan di pilpres," bebernya. (Taufik Ismail)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved