CHI Award 2018, Penghargaan Pahlawan Pelestari Batik

Penghargaan untuk para pejuang atau pelestari batik bertajuk The Culture Heritage Indonesia atau CHI Award 2018 berlangsung di Plaza Indonesia.

CHI Award 2018, Penghargaan Pahlawan Pelestari Batik
Warta Kota/Mochammad Dipa
PENGHARGAAN untuk para pejuang atau pelestari batik bertajuk The Culture Heritage Indonesia atau CHI Award 2018 di La Moda, Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (10/11/2018). 

PAHLAWAN kini tak hanya disematkan bagi seseorang yang berjuang di medan perang, namun gelar Pahlawan juga bisa disematkan bagi orang-orang yang berjuang mengabdi terhadap kelestarian wastra nusantara, salah satunya batik.

Banyak yang tidak tahu bahwa di balik proses diciptakannya batik, ada pejuang canting, malam, dan pembuat kain batik.

Tepat pada hari Pahlawan Nasional, Sabtu (10/11/2018), Yayasan Al-Mar menginisiasi sebuah penghargaan untuk para pejuang atau pelestari batik bertajuk The Culture Heritage Indonesia atau CHI Award 2018 yang berlangsung di La Moda, Plaza Indonesia, Jakarta.  

NANI Koespriyani dari CHI Heritage; Ketua Pelaksana CHI Award 2018, Ayu Dyah Pasha, Neneng Iskandar dari Wastraprema, Inisiator dan Pendiri CHI Heritage Warisan Budaya Indonesia, Wiwit Ilham Panjaitan; Kreator Batik, Insana Ilham Habibie; Steering Committee CHI Award 2018, Amy Wirabudi dan Perancang Mode, Musa Widyatmodjo, dalam Konferensi pers CHI Award di Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (10/11/2018).
NANI Koespriyani dari CHI Heritage; Ketua Pelaksana CHI Award 2018, Ayu Dyah Pasha, Neneng Iskandar dari Wastraprema, Inisiator dan Pendiri CHI Heritage Warisan Budaya Indonesia, Wiwit Ilham Panjaitan; Kreator Batik, Insana Ilham Habibie; Steering Committee CHI Award 2018, Amy Wirabudi dan Perancang Mode, Musa Widyatmodjo, dalam Konferensi pers CHI Award di Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (10/11/2018). (Warta Kota/Mochammad Dipa)

Ada empat kategori yang berhak mendapatkan penghargaan, yaitu kategori pelestari, penerus, inovator, dan penghargaan khusus (Legacy).

Dalam menyukseskan kegiatan ini, para tokoh yang sangat cinta batik ikut terjun sebagai dewan pemerhati. Di antaranya, Neneng Iskandar dari Wastraprema, Musa Widyatmojo sebagai perancang mode Indonesia, William Kwan sebagai pengamat wastra batik, Insana Ilham Habibie sebagai kreator batik, dan Wiwit Ilham Panjaitan sebagai Inisiator dan Pendiri CHI Heritage Warisan Budaya Indonesia.

Ketua Pelaksana CHI Award 2018, Ayu Dyah Pasha menuturkan, Kepedulian CHI pada kelangsungan warisan budaya Indonesia ini antara lain dituangkan dalam bentuk pemberian penghargaan pada para pahlawan warisan budaya Indonesia yang untuk kali pertama diberikan akan difokuskan pada para pejuang di balik bertahannya industri batik.

"Pada awalnya kami mencoba untuk mempelajari apa yang ingin kita lakukan di CHI award pertama kali ini. Kami ingin memberikan atensi kemajuan seni dan budaya Indonesia, dan akhirnya kami memilih wastra batik dulu," ujar Ketua Pelaksana CHI Awards, Ayu Diah Pasha, dalam Konferensi pers CHI Award di Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (10/11).

Populasi Pembuat Canting

PENGHARGAAN untuk para pejuang atau pelestari batik bertajuk The Culture Heritage Indonesia atau CHI Award 2018 di La Moda, Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (10/11/2018).
PENGHARGAAN untuk para pejuang atau pelestari batik bertajuk The Culture Heritage Indonesia atau CHI Award 2018 di La Moda, Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (10/11/2018). (Warta Kota/Mochammad Dipa)

Ayu Diah Pasha menambahkan, meski batik telah diakui menjadi warisan budaya tak benda versi Unesco sejak 2 Oktober 2009 sekaligus 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional, namun batik punya masalah yang kompleks, yakni populasi pembuat canting sangat sedikit.

“Di Pekalongan, pembuat canting cap hanya 25 orang. Di Solo lebih parah lagi, tinggal 10,” ucapnya.

Halaman
123
Penulis: Mochammad Dipa
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved