Pilpres 2019

Ma'ruf Amin Sebut Budek dan Buta, Andi Arief : Bolot Tidak Termasuk

Ungkapan budek dan buta yang dilontarkan Ma'ruf Amin ketika berada dalam acara di Cempaka Putih, Minggu (11/11/2018) ditanggapi enteng Andi Arief.

Ma'ruf Amin Sebut Budek dan Buta, Andi Arief : Bolot Tidak Termasuk
Calon Wakil Presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin, saat penyampaikan pidato kuliah Umum di Rajaratnam School of Internasional Studies Nanyang Technological University (RSiS NTU), Singapura, Rabu (17/10/2010) (Foto: Tim Media KH Ma'ruf Amin) 

UNGKAPAN budek dan buta yang dilontarkan Calon Wakil Presiden nomor urut 1, Ma'ruf Amin ketika berada dalam acara di Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada Minggu (11/11/2018) ditanggapi enteng Andi Arief.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu menyebut komedian Bolot tidak termasuk seseorang yang dimaksud Ma'ruf Amin.

"Komedian ternama Bolot, tidak termasuk kategori yang dimaksud Kyai Ma'ruf Amin," tulis Andi Arief lewat akun twitternya @AndiArief_ pada Senin (12/11/2018).

Andi menyebutkan, pihak pihak oposisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang disebut sebagai budek dan buta itu adalah pihak yang tidak mengerti politik bipolar yang tengah digencarkan Jokowi-sapaan Joko Widodo; dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Politik yang dapat memecah belah persatuan.

"Mereka yang buta dan budeg adalah yang tidak mengerti Indonesia terancam konflik besar akibat politik bipolar," tulis Andi.

Rakyat katanya dipecah menjadi dua bagian, kiri dan kanan, terlebih kalangan minoritas yang terperangkap dalam kontestasi Pilpres dan Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019 mendatang.

"Rakyat harus dijelaskan bahayanya ambisi berkuasa Jokowi dan PDIP yang berpotensi meninggalkan semangat persatuan. Jokowi dan PDIP menjebak suara saudara2 kita minoritas dalam perangkap elektoral dg pilkada DKI dan pengaturan Parlemen, UU dan MK pilpres PT (Presidential Treshhold) 20 persen," tulis Andi Arief pada Senin (12/11/2018)

Efek bipolar yang dilakoni PDIP ditunjukkannya pasca-Pilkada DKI Jakarta 2017, PDIP katanya kembali seperti Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pertama kali dilahirkan, yakni pada tanggal 10 Januari 1973.

Kala itu, PDI yang merupakan fusi atau gabungan dari beberapa partai lainnya, antara lain Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) serta Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik kala itu terbagi dua.

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved