Pesawat Jatuh

KNKT Kerahkan Empat Kapal Cari CVR Lion Air

CVR mempunyai peranan penting untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang tersebut.

KNKT Kerahkan Empat Kapal Cari CVR Lion Air
Warta Kota/Alex Suban
Barang-barang milik penumpang Pesawat Lion Air PK-PQL JT 610 dikumpulkan di Posko Taktis Basarnas di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (2/11/2018). 

Laporan Wartawan Warta Kota, Junianto Hamonangan

TANJUNG PRIOK, WARTA KOTA -- Komite Keselamatan Transportasi Nasional (KNKT) mengerahkan empat kapal untuk menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat.

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan dua kapal pertama yakni Baruna Jaya serta kapal khusus yang digunakam untuk mengangkut Remotely Operated Vehicles (ROV) beserta penyelam dari Basarnas untuk membantu proses pencarian CVR.

“Terus satu lagi kapal tongkang untuk menaruh serpihan-serpihan yang kita angkat dari laut, terus satu lagi ada kapal penyedot lumpur. Jadi kurang lebih ada empat kapal yang terlibat,” ucapnya, Sabtu (10/11).

“Ada juga speedboat-speedboat yang kecil, yang kebetulan dari Basarnas juga sudah mendukung speedboat untuk kita membuat operasional pencarian CVR,” sambung Soerjanto.

CVR mempunyai peranan penting untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang tersebut.

Kehadiran Flight Data Recorder (FDR) belum bisa mencerminkan seluruh penyebab kecelakaan.

“Kalau sekarang dengan FDR saja, mungkin ya sekitar 70 sampai 80 persen hal ini bisa kita ketahui. Namun kita perlu untuk sempurnanya, 100 persen penyebab dari kecelakaan ini,” tegasnya.

“Kita memerlukan CVR karena kita ingin apa yang terjadi percakapan di dalam kokpit pesawat sehingga kita bisa lengkap mengevaluasi penyebab dari kecelakaan tersebut,” tambahnya.

Soerjanto mengaku bakal terus melakukan pencarian CVR. Namun demikian belum bisa dipastikan hingga kapan proses tersebut bakal digelar.

“Kami belum tahu sampai kapan pencarian ini bisa kami lakukan, tentunya juga kami harus berpikir masalah biaya karena biaya pencarian black box ini cukup masif dan melibatkan banyak main equipment yang kita dapatkan dari dalam dan luar negeri,” ucapnya.

Namun demikian Soerjanto mengaku tidak mengetahui jumlah dana yang telah dikeluarkan untuk mencari black box Lion Air. “Waduh nggak tahu, saya nggak monitor dana tapi saya monitor pekerjaannya aja, yang penting black box ketemu, itu yang kita jadikan standarnya,” katanya.

“Kalau dananya saya nggak tahu karena banyak bantuan-bantuan yang mereka tidak menyebutkan dananya. Ya seperti kapal-kapal yang diperbantukan dari SAR, Baruna Jaya, bantuan-bantuan dari pemerintah yang lain, kami menghitung biaya yang memang sangat masif,” ujarnya.

Pencarian CVR yang mengalami kendala diduga akibat sinyal yang tidak maksimal. Soerjanto menduga kondisi itu akibat benturan yang terjadi pada saat peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air.

“Kemungkinan pinger-nya waktu impact terjadi kerusakan sehingga ketika mengeluarkan suara, suaranya tidak maksimal seperti di FDR, di FDR itu masih bagus sehingga suaranya cukup kuat,” katanya. (jhs)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved