3 Analisa Alasan Presiden Jokowi Mulai Menyerang Lewat Politikus Sontoloyo dan Genderuwo

Presiden Jokowi mulai lakukan gaya politik berbeda dengan menyerang lewat penyebut politikus genderuwo dan sontoloyo.

3 Analisa Alasan Presiden Jokowi Mulai Menyerang Lewat Politikus Sontoloyo dan Genderuwo
WARTA KOTA/ANDIKA PANDUWINATA
Presiden Jokowi membagikan 6.000 sertifikat tanah di Kota Tangerang, di Mal Alam Sutera, Minggu (4/11/2018). 

PENGAMAT komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai gaya komunikasi politik Jokowi tidak lazim ketika menyatakan politik genderuwo.

Apalagi Jokowi saat ini sebagai calon presiden petahana dalam Pilpres 2019.

"Memang sebagai petahana komunikasi politik yang dilakukan Jokowi tidak lazim," ujar pendiri lembaga survei KedaiKOPI ini kepada Tribunnews.com, Jumat (9/11/2018).

Bila mengacu pada teori fungsi kampanye, Hendri Satrio menjelaskan, seharusnya Jokowi mempromosikan diri (acclaim) atau minimal bertahan (defense).

"Bukan ikut attack atau menyerang," ujar Hendri Satrio.

Dia menilai, pernyataan Jokowi terkait politik genderuwo dan sebelumnya politik sontoloyo sebagai bentuk gaya komunikasi menyerang dari seorang petahana.

Kondisi ini menurut Hendri Satrio, bisa terjadi karena 3 hal.

Pertama, Jokowi terpengaruh buzzer atau pembisiknya sehingga terpancing.

Kedua, kubu Jokowi panik sehingga memaksakan diri keluar.

"Karena percaya bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang," jelasnya.

Halaman
12
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved