Air Palyja Siap Pakai di RSAB Harapan Kita dan RS Pelni

Upaya konservasi penggunaan air tanah ke air perpipaan di Jakarta, ternyata tidak hanya dilakukan oleh sejumlah gedung perkantoran

Air Palyja Siap Pakai di RSAB Harapan Kita dan RS Pelni - pelni.jpg
Istimewa
Pelni
Air Palyja Siap Pakai di RSAB Harapan Kita dan RS Pelni - harapan-kita.jpg
Istimewa
Harapan Kita

WARTA KOTA - Upaya konservasi penggunaan air tanah ke air perpipaan di Jakarta, ternyata tidak hanya dilakukan oleh sejumlah gedung perkantoran. Hal yang sama juga dilakukan oleh rumah sakit. Salah satunya di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat. 
Sejak beroperasi 22 Desember 1979, rumah sakit ini sudah memakai air perpipaan untuk kebutuhan operasional rumah sakit. Konsumsi air perpipaan meningkat setiap tahunnya. 

Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana RSAB Harapan Kita, Hadi Sunarjo, mengatakan untuk tahun 2017, konsumsi air Palyja di RSAB Harapan Kita berkisar 13.000-17.000 meter kubik. Sementara di 2018 konsumsi air berkisar antara 15.000-17.000 meter kubik.

Hadi menambahkan, pihaknya rutin menjaga kualitas air melalui uji lab tiga bulan sekali di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Jakarta. Sementara itu untuk pendistribusian air perpipaan, kata Hadi, RSAB Harapan Kita menggunakan penampung air (reservoir) untuk menampung suplai air dari Palyja kemudian dialirkan ke seluruh instalasi rumah sakit.

“Air langsung kami gunakan dan tidak melalui proses water treatment. Air ditampung di reservoir untuk kebutuhan air selama 3 hari jika suplai air perpipaan terhenti," ujar Hadi ditemui Jumat (7/9).

Meski tidak ada proses water treatment atau filtrasi, Hadi menegaskan, khusus untuk pelayanan rumah sakit seperti laundry (pencucian perlengkapan medis), gizi, ruang operasi, penanganan bayi tabung, air minum bayi, hingga pencucian botol bayi menggunakan air Palyja yang sudah di-filtrasi menggunakan Reverse Osmosis (RO). 

Berdiri di atas total lahan 70.000 meter persegi, RSAB Harapan Kita juga memiliki dua sumur resapan dan 100 titik lubang biopori yang tersebar di seluruh area rumah sakit. Selain itu, sebagai upaya penghematan air, pihak rumah sakit telah menggunakan shower kamar mandi, flush toilet dan jet shower di seluruh kloset kamar mandi. 

Rumah sakit lain di Jakarta yang mengonsumsi air produksi PT Palyja adalah RS Pelni di Jalan KS Tubun, Jakarta Barat. Direktur Operasional RS Pelni, Dr Rooshardianti S, MBA, mengatakan bahwa pasokan air bersih di RS Pelni sepenuhnya mengadalkan Palyja. Adapun kapasitas konsumsi air yang paling besar terjadi pada unit pelayanan cuci darah.

"Karena RS Pelni mempunyai unit pelayanan cuci darah terbesar di Indonesia, bahkan di Asia. Karena kami punya 100 mesin cuci darah. Pasiennya mencapai 200 orang per hari. Dan itu pemakaian airnya cukup tinggi," ujarnya. 

Dokter yang akrab disapa Anti ini juga menyebutkan, volume pemakaian air di RS Pelni setiap tahunnya terus meningkat. Sampai tahun ini rata-rata mencapai 29.000 meter kubik. "Kalau pemakaian air, terus berkembang. Hal itu seiring kapasitas Bed Occupancy Rate (BOR) RS PELNI yang bertambah. Sejak tahun 2013 terakhir kapasitas 327 tempat tidur, kemudian bertambah menjadi kapasitas 509 bed tempat tidur di tahun 2018," ujarnya.

Anti menambahkan, untuk sistem pendistribusian air perpipaan di RS Pelni menggunakan sistem looping yang dialirkan dari dua sumber air yang posisinya berada di depan rumah sakit. Dengan sistem looping tersebut, kedua sumber air tersebut saling terhubung, sehingga apabila ada masalah dari satu sumber air, sumber air yang lain bisa saling mengcover.

Dengan luas lahan 60.601 meter persegi, RS PELNI memiliki tiga gedung bertingkat, terdiri dari gedung poliklinik 7 lantai. Gedung rawat inap (VVIP) 4 lantai, dan gedung D (rawat inap) 5 lantai. Pada setiap gedung, terdapat ground tank dan roof tank untuk menyimpan stok air dengan kapasitas 120 meter kubik untuk di gedung poliklinik. Sementara untuk gedung baru rawat inap (vvip) berkapasitas 150 meter kubik dan gedung D kapasitas 100 meter kubik.

Untuk menjaga kualitas air, ground tank maupun roof tank dikuras setiap enam bulan sekali, dan dicek setiap minggu, serta melakukan klorinasi air. Adapun kapasitas ground tank dan roof tank tersebut hanya mampu mencukupi pemakaian air di RS PELNI dalam waktu setengah hari. 
"Dari aturan standar akreditasi rumah sakit sudah melarang penggunaan air tanah, meskipun masih ada sumur dalam, tapi jarang pakai air tanah, air tanah ini hanya untuk keperluan cadangan aja, terutama jika ada gangguan pasokan air dari Payja itu pun tidak berlangsung lama," jelas Anti. (dip)

Editor: Andy Prayogo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved