Sekotong, Sepotong Taman Surga Laut di Lombok Barat

Dari kejauhan terpampang hamparan pasir putih berkilauan mengelilingi di sejumlah pulau atau gili di ujung bagian barat Pulau Lombok.

Sekotong, Sepotong Taman Surga Laut di Lombok Barat
Ilustrasi - Wisatawan melakukan snorkeling saat menikmati keindahan bawah laut kawasan pulau Gili Trawangan, Lombok, NTB, Rabu (28/2/2018). (ANTARA FOTO/Anis Efizudin) 

DARI kejauhan terpampang hamparan pasir putih berkilauan mengelilingi di sejumlah pulau atau gili di ujung bagian barat Pulau Lombok.

Memang kontras sekali berpadu dengan hamparan air laut berwarna biru tua dan muda serta langit biru nan bersih...

Membuat mata tidak bosan-bosannya memandang pemandangan yang luar biasa itu.

Gelombang laut yang lembut semakin memikat perasaan untuk terus mengikuti pertunjukkan alam semesta itu, selepas perahu dari tambatan di dermaga Desa Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Dari kejauhan tampak gili-gili kecil yang melambai-lambai memanggil untuk dikunjungi.

Setidaknya di Kecamatan Sekotong itu terdapat 12 gili, yakni, Gili Gede, Gili Penyu, Gili Lontar, Gili Poh, Gili Rengit, Gili Layar, Gili Asahan, Gili Goleng, Gili Nanggu, Gili Tangkong, Gili Suda, dan Gili Kedis.

Menjelang tiba di pantai Gili Gede, di bawah perahu yang ditumpangi terpampang aquarium alam dengan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik.

Sesekali terlihat ikan nemo berwarna merah yang muncul malu-malu dari balik bebatuan, semakin mengajak untuk menyelam ke dalam air mengikuti gemulai ikan yang menari-nari di air yang bebas dari polusi itu.

Bisa dikatakan perairan di seputaran gili itu, persis dengan kolam renang yang berukuran besar karena ombaknya yang pelan karena lokasinya di teluk serta beningnya air.

Dipastikan siapa saja yang mengunjungi objek wisata tersebut, ingin berenang dan merasakan segarnya air di kawasan tersebut.

Ketika perahu tiba pantai Gili Gede itu, langkah kaki langsung disambut pasir putih dan sesekali melewati tumpukan kerang berbentuk bintang yang terbawa ombak dan mengering setelah terjemur teriknya sinar matahari.

Gili Gede ini memiliki luas sekitar 450 hektar atau panjang empat kilometer serta lebar lima meter dengan memiliki empat puncak bukit.

Bentangan alam di perbukitan itu terlihat mengering setelah sekian lama tidak diguyur hujan.

Berbeda halnya saat musim penghujan, pohon dan rerumputan menghijau.

Namun suasana demikian tidak menghalangi keeksotikannya.

Terlebih lagi tatkala melihat pohon asem yang berdiri di depan penginapan yang bangunannya berbentuk rumah adat Suku Sasak dan dedaunan pohon asem yang berwarna merah, berguguran pada sore hari, semakin menambah kekontrasan alam dan pengunjung terpaksa mengambil kembali telepon seluler dari saku celana untuk memotret frame demi frame.

Potret itu dipadukan dengan ayunan yang diikat di pohon asam itu, dan semakin berat untuk mengangkat kaki meninggalkan daratan pulau yang bentuknya mirip anak kambing tersebut.

Di Gili Gede, pengunjung pun dapat berenang dengan aman di tepian pantai serta kalau ingin mencoba kano pun tersedia di sana. Di Gili Gede juga terdapat sejumlah spot untuk bersnorkling ria.

Bisa dikatakan jualan untuk Gili Gede adalah kesunyian atau ketenangan jauh dari kebisingan hingga memikat banyak wisatawan dari mancanegara.

Terlebih lagi di Gili Gede terdapat tempat parkir perahu yacht yang dimiliki oleh orang asing yang telah mengikuti rally dengan jalur Australia, Pulau Chrismast dan Cape Town, Afrika Selatan.

"Kebanyakan pengunjung ke Gili Gede berasal dari Eropa khususnya dari Jerman. Serta tidak sedikit pula turis nusantara dari berbagai daerah di Indonesia," kata pemilik Thamarind Resor, Abubakar Abdullah.

Hal itu dibenarkan oleh pemuda setempat, Nur, yang menyebutkan banyak wisatawan asing yang memperpanjang menginap di Gili Gede karena kerasan untuk berlama-lama di sana.

Halaman
12
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved