Cara Mencegah Kematian Mendadak Saat Maraton

Pelari meninggal mendadak saat mengikuti lomba maraton terus mewarnai penyelenggaraan event di Indonesia. Bagaimana mencegahnya?

Cara Mencegah Kematian Mendadak Saat Maraton
KOMPAS.com/ RIMA WAHYUNINGRUM
Pelari Electric Jakarta Marathon melintasi jalur cepat Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan pada Minggu (28/10/2018). 

TEWASNYA seorang pelari peserta Electric Jakarta  Marathon 2018 mengingatkan tentang betapa pentingnya mengenali kondisi tubuh dan persiapan menghadapi lari jarak jauh.

Salah satu penyebab kematian mendadak pada orang yang sedang berolahraga adalah berhentinya kerja jantung secara tiba-tiba. Kejadian tersebut dipicu oleh olahraga dengan intensitas tinggi yang dilakukan dalam waktu lama.

Konsultan jantung AS Dr. Steve Van Camp pada 2004 menemukan risiko kematian pada pelari maraton jarak antara 10km-20km saat ini terus menurun, yaitu 3,1 per sejuta finishers.

Penelitiannya juga menunjukkan tingkat kematian mendadak akibat serangan jantung itu rasionya 1 berbanding 4.000-26.000 orang yang aktif secara fisik.

Persentase kematian lebih besar pada orang yang kurang aktif yaitu 1 per 56 dan hanya lima kali lebih tinggi pada orang yang sedang berlatih. 

Dokter konsultan jantung dan elektrofisiologis Jeremy Chow menjelaskan, ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang bisa mengalami kematian jantung mendadak atau sudden cardiac death (SCD). Berikut di antaranya:

1. Kelainan jantung kongenital

Kelainan jantung kongenital merupakan kondisi cacat pada jantung atau dikenal juga dengan kelainan bawaan.

Kondisi ini sudah ada sejak seorang individu dilahirkan. Umumnya seseorang yang mengalami kelainan jantung kongenital tidak dapat hidup lama, kecuali mendapat tindakan operatif pada jantungnya.

2. Kelainan otot jantung

Halaman
1234
Penulis: Max Agung Pribadi
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved