Jokowi: Yang Diramaikan Itu Harusnya Prestasi Atlet, Bukan Pas Saya Naik Motor

Presiden Joko Widodo mengatakan, tahun politik sangat mengkhawatirkan jika tidak disikapi dengan damai dan menyejukkan.

Jokowi: Yang Diramaikan Itu Harusnya Prestasi Atlet, Bukan Pas Saya Naik Motor
Warta Kota/Joko Supriyanto
Presiden Jokowi menghadiri sidang terbuka dalam rangka Lustrum ke-13, Dies Natalis ke-65 UKI, di kampus UKI Cawang, Senin (15/10/2018). 

PRESIDEN Joko Widodo mengatakan, tahun politik sangat mengkhawatirkan jika tidak disikapi dengan damai dan menyejukkan.

Jokowi mengimbau kontestasi politik jangan sampai saling menjatuhkan. Bahkan, dirinya sempat mencontohkan pada perhelatan Asian Games 2018, di mana persatuan dalam kompetisi tersebut membuahkan hasil yang begitu membanggakan, yakni Indonesia menempati posisi keempat.

"Kalau kita bersatu itu tidak pernah berbicara lagi yang namanya suku, agama, kita hanya berbicara satu, Indonesia Raya Merah Putih. Tapi yang diramein, pas saya naik motor. Harusnya yang diramaiin itu prestasinya, dong. Naik motor kok diramaiin," kata Jokowi di Kampus UKI, Jakarta, Senin (15/10/2018).

Baca: Paris Saint-Germain: Tetap Kuat, Indonesia!

"Yang diramein itu yang melompat ini. Itu stuntman. Ya itu stuntman, dong. Masa iya Presiden meloncat seperti itu, mana ada. Masa suruh meloncat sendiri, gila Bro. Mestinya kita itu apresiasi atlet-atlet kita, baik Asian Games dan Para Games, bukan Presiden lombat dicari kesalahannya," sambungnya.

Jokowi menginginkan kontestasi politik dapat diwarnai dengan kegembiraan, serta narasi yang sejuk dan menampilkan ide-ide untuk kemajuan bangsa serta gagasan-gagasan untuk kemajuan, serta program-program untuk Indonesia maju, sehingga dapat memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika.

"Ini sebetulnya yang kita ingin tengarai dalam kontestasi politik kita. Supaya dapat menyadarkan bapak ibu dan saudara semuanya, bahwa negara kita adalah negara besar, dengan perbedaan-perbedaan yang banyak, baik suku, bahasa, agama, tradisi, adat," bebernya.

Baca: Jokowi: Jangan Gampang Termakan Berita Enggak Bener

Jokowi mengungkapkan, Indonesia memiliki 714 suku dan 1.100 bahasa. Sehingga, perbedaan tersebut justru dapat mengokohkan persatuan Indonesia.

"Oleh karena itu saya pesan, saya titip, jangan sampai karena pilihan bupati, karena pilihan wali kota, karena pilihan gubernur, karena pilihan presiden, kita seolah-olah terbelah-belah dan terpecah-pecah," tuturnya.

Jokowi menyerahkan seluruhnya kepada rakyat Indonesia untuk mengunakan hak demokrasinya, apa pun pilihannya.

Baca: Jokowi: Peserta Pertemuan IMF-Bank Dunia Bayar Sendiri Biaya Hotel dan Makan

"Silakan mau pilih Bupati A B C dalam kontestasi politik di daerah, silakan memilih Gubernur A, B,C, pilihlah yang terbaik. Ada pilihan Presiden A dan B, silakan pilih A atau B," ucapnya.

"Ini adalah kontestasi politik, sehingga sudah sering saya sampaikan kepada masyarakat, kepada rakyat, khususnya dalam kontestasi politik itu adalah kontestasi adu ide, adu gagasan, adu program.

Dan lihat juga di dalam pilihan bupati dan wali kota, dilihat juga prestasinya seperti apa, rekam jejaknya track record-nya dilihat. Jangan adu cela, saling memaki dan saling menghujat dan menghina. Itu bukan tata krama Indonesia. Itu bukan etika Indonesia," tambahnya. (*)

Penulis: Joko Supriyanto
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved