Jurnalis Lenyap di Konsulat Bikin Arab Saudi Belum Bisa Mengelak Diklaim Ada Bukti Rekaman

Khashoggi, yang notabene mantan penasihat pemerintah, melarikan diri dari Saudi dan tinggal di AS.

Jurnalis Lenyap di Konsulat Bikin Arab Saudi Belum Bisa Mengelak Diklaim Ada Bukti Rekaman
Daily Mail
Dalam kolom korannya untuk Washington Post, Khashoggi telah mengeritik beberapa kebijakan dari Pangeran Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman dan intervensi Riyadh dalam perang di Yaman. 

Belum ada yang bisa membuktikan wartawan Arab Saudi, Jamal Khassoggi tewas karena dilenyapkan di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. 

Meski demikian, korban diketahui terakhir berada di Konsulat Arab Saudi tersebut. 

Pejabat intelijen Amerika Serikat (AS) mengaku telah melihat video dan mendengarkan rekaman suara pembunuhan jurnalis Arab Saudi.

Dilaporkan The Washington Post via The Independent Jumat (12/10/2018), rekaman itu memperlihatkan momen sebelum dan saat Jamal Khashoggi dibunuh.

Khashoggi, kontributor The Post, dilaporkan menghilang setelah dia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.

Sumber dari agen rahasia AS menuturkan, suara yang terdengar dari dalam gedung menunjukkan momen ketika Khashoggi memasuki ruangan.

"Kami bisa mendengar ada orang yang berbicara Arab. Terdengar suaranya diinterogasi, disiksa, sebelum kemudian dibunuh," ujar sumber tersebut.

Jurnalis berusia 59 tahun itu dilaporkan dibunuh oleh 15 orang, di mana salah satunya merupakan pakar forensik yang bertugas memutilasi jenazahnya.

Riyadh telah mengirimkan tim yang dilaporkan dipimpin Pangeran Khalid al-Faisal untuk bertemu Turki dan membicarakan kasus hilangnya Khashoggi.

"Tim gabungan Saudi dan Turki bakal dibentuk untuk menyelidiki kasus Jamal dari segala aspek," terang juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin, yang dikutip The Independent.

Khashoggi, yang notabene mantan penasihat pemerintah, melarikan diri dari Saudi dan tinggal di Amerika Serikat (AS) sejak September 2017.

Dalam ulasannya di The Post, jurnalis berumur 59 tahun itu acap mengkritik kebijakan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman maupun keterlibatan Saudi di Yaman.

Kasusnya menuai reaksi AS di mana Presiden Donald Trump mendesak Riyadh untuk memberi penjelasan. Bahkan, dia menyatakan bakal menggelar investigasi.

Meski begitu, Trump menuturkan dia tidak akan menangguhkan kesepakatan penjualan persenjataan kepada negara kaya minyak tersebut.

 

Ucapan Trump mendapat respon anggota Senat AS baik dari Partai Demokrat maupun Republik yang menyatakan bakal memblokir kesepakatan tersebut.

Ketegangan meningkat karena pembunuhan jurnalis itu diduga terjadi karena perintah pihak tertentu yang tidak berkenan dengan laporan yang ditulis jurnalis itu. 

Kebebasan pers dan berpendapat di sejumlah negara dibatasi termasuk di Kerajaan Arab Saudi. 

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help