Razia Prostitusi Online di Apartemen Center Point Permintaan Pemilik dan Penghuni

Aji Ali Sabana mengatakan, razia prostitusi online merupakan permintaan pemilik dan penghuni apartemen.

Razia Prostitusi Online di Apartemen Center Point Permintaan Pemilik dan Penghuni
Warta Kota/Muhammad Azzam
Apartemen Center Point, di Jalan Jend Ahmad Yani, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. 

PENGURUS Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Rumah Susun (PPPRS) Apartemen Grand Center Point Kota Bekasi, Aji Ali Sabana mengatakan, razia prostitusi online merupakan permintaan pemilik dan penghuni apartemen.

Menurut Aji, pihaknya mengirim surat kepada pihak berwajib, mulai dari Satpol PP, Kepolisian agar dilakukan razia.

"Kami sudah tahu mulai marak prostitusi online di apartemen, kami resah. Makanya kami kirim surat agar aparat melakukan operasi gabungan. Dan benar itu dilakukan, kami sangat apresiasi itu," katanya, pada Kamis (11/10/2018).

Aji menjelaskan, pelaku prostitusi di apartemen tersebut memanfaatkan apartemen sewa harian.

Karena itu, PPPRS akan meningkatkan pengawasan terhadap tamu yang menyewa harian.

Baca: Kodim Depok Sediakan Wifi Gratis untuk Sukseskan TNI Manunggal Membangun Desa

"Kita sepakat apartemen ini harus bersih dari praktik prostitusi online. Apalagi kita tahu di samping ada Islamic Center, sungguh ironis," jelasnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah mententukan langkah strategis untuk mencegah praktik prostitusi di Apartemen Center Point.

Langkah strategis itu dengan melakukan razia internal secara berkala maupun operasi yang melibatkan Polisi, TNI, Satpol PP, Imigrasi dan sekuriti.

"Pengawasannya harus lebih diperketat, khsusunya tamu penyewa harian apartemen, karena pelaku prostitusi memanfaatkan sewa harian melalui agen penyewa. Kita nanti komunikasi dengan sekuriti jika ada tamu atau penyewa untuk pantau, tanya identitas dan tujuannya apa," kata Aji.

Sebelumnya, aparat Polres Metro Bekasi Kota menggerebek sejumlah kamar di tower C dan D, pada Sabtu (6/10/2018) malam lalu.

Polisi menemukan 21 pekerja seks komersial, dan tiga orang mucikari yang bernama Mustakim, Jenio, dan Saputra telah ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam kasus itu, polisi menyita belasan kondom, uang tunai Rp 4,5 juta.

Para mucikari dijerat dengan Pasal 296 dan atau Pasal 506 KUHP dengan ancaman penjara selama empat tahun. (M18)

Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved