Pemkot Depok Kurang Serius Perhatikan Generasi Milenial

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Depok dinilai kurang serius memperhatikan generasi milenial yang ada di Kota Depok.

Pemkot Depok Kurang Serius Perhatikan Generasi Milenial
Warta Kota/Andika Panduwinata
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Tangerang Selatan melakukan sosialisasi pentingnya kepemilikan dokumen kependudukan kepada kaum milenial di Sekolah Menengah Atas (SMA) /Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di Kota Tangsel. 

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Depok dinilai kurang serius memperhatikan milenial'>generasi milenial yang ada di Kota Depok.

Padahal generasi ini adalah generasi produktif yang seharusnya mendapat perhatian serius pemerintah.

Oleh para ahli milenial'>generasi milenial saat ini adalah mereka yang berusia antara 15 sampai 37 tahun.

Tidak adanya perhatian serius Pemkot Depok terhadap milenial'>generasi milenial ini dikatakan pemerhati kebijakan perkotaan di Depok, Novi Anggriani, Senin (8/10/2018).

Hal itu kata Novi terlihat dari minimnya upaya Pemkot Depok dalam menangani masalah-masalah di milenial'>generasi milenial di Depok.

"Diantaranya selalu terjadinya tawuran antara kelompok pemuda di Depok terutama di akhir pekan, hingga masalah prostitusi terselubung di apartemen yang para pelaku dan pemain utamanya adalah generasi milienial," kata Novi yang juga politisi PDIP Depok ini.

Ia menilai sepertinya Pemkot Depok masih memandang sebelah mata semua masalah yang melibatkan milenial'>generasi milenial ini. "Dapat diartikan Pemkot Depok belum serius memperhatikan milenial'>generasi milenial,” ujar Novi.

Di beberapa pemerintahan kota dan kabupaten, kata Novi mereka sudah menggandeng milenial'>generasi milenial di wilayahnya sebagai mitra dalam pembangunan.

"Sedangkan di Depok yang terjadi sebaliknya. Generasi milenial di Depok bisa dibilang masih jadi objek pembangunan saja. Sebagai contoh, Pemkot lebih banyak bangun mal daripada gelanggang olahraga atau balai latihan kerja. Ini pada akhirnya membuat milenial'>generasi milenial di Depok, lebih konsumtif ketimbang produktif,” kata Novi.

Meski milenial'>generasi milenial mengalami keterbatasan, Novi yang juga Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Kota Depok Daerah Pemilihan (Dapil) Pancoran Mas itu meminta milenial'>generasi milenial di Depok tak tinggal diam.

"Generasi milenial Depok dapat bekerjasama dengan pihak swasta dan memanfaatkan teknologi serta media sosial untuk mengembangkan minat dan bakatnya atau bahkan menjual produk atau jasa mereka," katanya.

Meskipun kata dia masih ada pula sedikit milenial'>generasi milenial di Depok yang berprestasi.

Namun keberadaan mereka ini ada pusat kota dengan tema terbatas dan tidak masuk ke pinggiran wilayah Kota Depok.

Karena hal inilah, Novi meminya Pemkot Depok menjadikan milenial'>generasi milenial sebagai subjek pembangunan di setiap lini kehidupan, dan bukan objek.

"Generasi milenial Depok mesti memilih pemimpin yang peduli dan mendukung milenial. Jika tidak milenial'>generasi milenial di Depok akan jauh tertinggal dibanding milenial'>generasi milenial di wilayah lainnya," kata Novi.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help