NCW Curigai Permainan Antar-Kartel dan Bea Cukai dalam Penyelundupan Pakaian Bekas Asal Singapura

National Corruption Watch menduga ada ‘Permainan’ dokumentasi dalam proses impor dan ekspor yang terjadi di sejumlah pelabuhan di Indonesia.

NCW Curigai Permainan Antar-Kartel dan Bea Cukai dalam Penyelundupan Pakaian Bekas Asal Singapura
Ketua Umum National Corruption Watch (NCW) Syaiful Nazar (ke-dua dari kiri) saat acara diskusi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (12/9/2018). 

NATIONAL Corruption Watch (NCW) menduga ada ‘Permainan’ dokumentasi dalam proses impor dan ekspor yang terjadi di sejumlah pelabuhan di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum NCW, Syaiful Nazar dalam rangka menyikapi penyelundupan barang impor berupa limbah pakaian bekas dari Singapura.

Penyelundupan limbah berupa pakaian bekas itu berhasil dibongkar oleh petugas Bea Cukai Belawan, Medan, Sumatra Utara yang dikirim dari pelabuhan Batam.

Menurutnya, metode dan sistem praktik kotor yang terjadi di Bea Cukai saa ini tidak jauh berbeda dengan era sebelum reformasi.

Hal itu dapat terlihat secara kasat mata bahwa kejahatan yang melibatkan pejabat-pejabat Bea Cukai baik ditingkat pusat maupun wilayah, terus berjalan.

Dugaan kejahatan berkelompok itu, tentu, bertujuan untuk mencuri hak-hak negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

“Kejahatan yang terjadi di Bea dan Cukai saat ini seperti air mancur, yang mengalir dari bawah ke atas. Artinya praktik suap terjadi dilakukan oleh pegawai kalangan bawah yang memberiakn setoran ke atas,” kata Syaiful Nazar dalam Keterangan tertulisnya yang diterima Warta Kota, Jumat (21/9/2018).

Kejahatan yang terjadi di Bea Cukai pada era sebelum reformasi sangat transparan.

Akan tetapi setelah reformasi dan berdirinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), praktik kotor di Bea Cukai menjadi lebih rapih.

“Peredaran uang hasil kejahatan di bidang impor dan ekspor sangat rapih permainan dan pembagiannya sehingga tidak mudah terdeteksi,” ucapnya.

Halaman
123
Penulis: Hamdi Putra
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved