YLKI Nilai Ironis Pemerintah Salurkan Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan Dampak Defisit

Jelas menimbulkan sejumlah ironi yang kontraproduktif bagi masyarakat dan BPJS Kesehatan.

YLKI Nilai Ironis Pemerintah Salurkan Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan Dampak Defisit
Istimewa
Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Pemerintah mengincar cukai rokok di antaranya untuk menutupi defisit BPJS Kesehatan. 

DEFISIT BPJS Kesehatan terus meninggi, tercatat defisit hingga akhir 2018, mencapai Rp 16,5 triliun.

Pemerintah pun bakal menyalurkan cukai rokok untuk menyelamatkan BPSJ Kesehatan.

Keprihatinan tersebut diungkapkan Ketua Pengurus Harian Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, yang menilai, sangat miris.

Secara umum mengalokasikan cukai rokok untuk BPJS bisa dipahami, mengingat rokok merupakan barang terkena cukai.

Sehingga, sebagian dana cukainya memang layak dikembalikan untuk penanggulangan atau pengobatan penyakit akibat dampak negatif rokok.

Namun, langkah tersebut katanya tidak bisa dilakukan secara serampangan karena alih-alih akan menimbulkan sejumlah ironi yang justru kontraproduktif bagi masyarakat dan BPJS Kesehatan itu sendiri.

"Pantas jika BPJS Kesehatan banyak gagal bayar pada rumah sakit. Fenomena yang membahayakan keselamatan pasien. Sebab gegara BPJS gagal bayar pada rumah sakit, akibatnya rumah sakit mengurangi kualitas pelayanannya kepada pasiennya," jelas Tulus Abadi dalam siaran tertulis pada kamis (20/9/2018).

"Misalnya, mengurangi jumlah obat, yang seharusnya untuk satu bulan, menjadi dua minggu saja. Itu yang kelihatan, belum lagi yang tidak kelihatan, boleh jadi pihak rumah sakit mengurangi tindakan medis lain, seperti injeksi, kualitas obat, rontgen, dan lainnya," tambahnya.

berdasarkan pandangannya, terdapat sejumlah ironi dibalik kebijakan menyuntik BPJS Kesehatan dengan cukai rokok. pertama adalah mengobati orang sakit tetapi dengan cara mengeksploitasi warganya untuk tambah sakit.

Sebab menurutnya, dengan menggali dana cukai rokok untuk menutup BPJS sama artinya pemerintah menyuruh rakyatnya merokok. Sama artinya pemerintah mendorong agar rakyatnya sakit, karena konsumsi rokok;

Halaman
12
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved