Buwas Tolak Impor Beras, Mahfud MD: Saya Sangat Suka Orang Ini

Dalam tanya jawab, Budi Waseso mengeluhkan soal keputusan impor beras yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Buwas Tolak Impor Beras, Mahfud MD: Saya Sangat Suka Orang Ini
Tribunnews
Dirut Perum Bulog Budi Waseso dan beras kemasan sachet. 

PERNYATAAN keras Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso yang menolak impor beras yang dilakukan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, diacungi jempol Mahfud MD.

Mahfud MD menilai Buwas, sapaan Budi Waseso, tegas dan pro rakyat. Hal tersebut disampaikan Mahfud MD lewat akun twitternya, @mohmahfudmd, Kamis (20/9/2018). Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) sekaligus Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013 itu menyukai sikap Buwas.

"Kata Kabulog Budi Waseso (Buwas), 'Kita tak perlu impor beras, gudang Bulog msh penuh, tak mampu menampung beras impor'. Dlm hal tertentu sy berbeda dgn Buwas, tapi dlm banyak hal saya sangat suka orang ini. Tegas, rasional, pro rakyat; termasuk soal impor beras ini," tulis Mahfud MD.

Pernyataannya merujuk pernyataan Buwas dalam jumpa pers terkait polemik beras impor di Kantor Bulog, Jalan Jenderal Gatot Subroto, kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (19/9/2018). Rekaman video tersebut diunggah kembali oleh Rosianna Silalahi lewat akun twitternya @Rosianna766Hi.

Dalam tanya jawab, Budi Waseso mengeluhkan soal keputusan impor beras yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Sebab, gudang Bulog kini sudah penuh dan tidak dapat menampung pasokan beras impor sebanyak 500 ribu ton.

Keputusan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pun menurutnya sangat bertolak belakang dengan jiwa nasionalisme. Sebab, bukan mencegah aksi impor menggunakan produk lokal, Enggartiasto Lukita justru memilih untuk impor.

"Saya juga bingung, ini warga negara atau bukan? Ini berpikir negara, bangsa, atau bukan? Cobalah kita sama-sama, gunanya berkoordinasi itu kita menyamakan pendapat, ya. Kira-kira ini lho prediksinya. Jadi kalau saya mengeluhkan fakta gudang saya ini sudah tidak mampu menyimpan, bahkan saya harus menyewa gudang, bahkan meminjam, itu kan cost (biaya) tambahan. Ada yang jawab, itu urusannya Bulog kalau soal gudang, 'matamu' itu," beber Budi Waseso. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help