Tolak Taman Pondok Jaya, Warga Pirus Permata Depok Siap Pasang Badan

Warga Sektor Pirus yang berada di wilayah RT 010 RW 007 Kelurahan Pondok Jaya secara tegas menolak rencana tersebut.

Tolak Taman Pondok Jaya, Warga Pirus Permata Depok Siap Pasang Badan
Warta Kota/Rusna Djanur Buana
Warga Sektor Pirus dan Sektor Safir Perumahan Permata Depok menolak pembangunan taman Kelurahan Pondok Jaya. Sejak Senin (17/9/2018), warga sudah memasang spanduk penolakan di sekitar lapangan Pirus. 

MATAHARI sudah mulai menurun ketika Jetro bersama kakaknya Adhys bermain sepeda di lapangan Sektor Pirus Permata Depok, Pondok jaya, Cipayung, kemarin.

Di sisi lain lapangan, Krishna bersama Dimas dan kawan-kawannya bermain bola plastik. Di pinggir lapangan, Bu Dhe Yatno, panggilan untuk istri Ketua RT setempat, asyik bercanda dengan sang cucu. 

Keceriaan dan kegembiraan itu selalu muncul setiap sore hari. Di lapangan berukuran sekitar 15 x 20 meter itulah anak-anak itu berinteraksi, bermain sekaligus berolahraga.

Namun keceriaan dan kegembiraan mereka kini terancam terampas. Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) berencana membangun taman Kelurahan Pondok Jaya di lapangan tersebut.

Warga Sektor Pirus yang berada di wilayah RT 010 RW 007 Kelurahan Pondok Jaya secara tegas menolak rencana tersebut.

Warga Sektor Pirus dan Sektor Safir Perumahan Permata Depok menolak pembangunan taman Kelurahan Pondok Jaya. Sejak Senin (17/9/2018), warga sudah memasang spanduk penolakan di sekitar lapangan Pirus.
Warga Sektor Pirus dan Sektor Safir Perumahan Permata Depok menolak pembangunan taman Kelurahan Pondok Jaya. Sejak Senin (17/9/2018), warga sudah memasang spanduk penolakan di sekitar lapangan Pirus. (Warta Kota/Rusna Djanur Buana)

Penolakan itu mendapat dukungan penuh dari warga Sektor Safir yang berbatasan langsung dengan Sektor Pirus.

Pembangunan Taman Kelurahan Pondok Jaya membawa konsekwensi logis hilangnya ruang bermain dan beraktivitas warga Pirus.

Pasalnya taman tersebut akan menjadi milik publik, siapa pun bisa menggunakan lapangan tersebut. Warga juga khawatir akan muncul dampak negatif , di antaranya soal keamanan dan kebersihan.

“Kan aneh jika kami harus minta izin ke pihak kelurahan setiap akan menggunakan lapangan tersebut. Padahal kami lah yang sehari-hari merawat dan membersihkan taman yang Pirus. Lebih dari itu, kami khawatir anak-anak kehilangan ruang bermain dan berinteraksi, karena orang di luar Pirus bisa menggunakan lapangan itu . Jika kemudian anak-anak terlibat dalam pergaulan bebas, dan terjerumus narkoba, siapa yang bertanggung jawab? “ kata Aji warga Pirus XIII.

“Demi masa depan anak-anak, demi keamanan dan kenyamanan, warga Pirus siap pasang badan dan menolak rencana itu. Pertanyaanya mengapa harus lapangan Pirus? Bukankah sektor-sektor lain juga punya fasilitas umum yang bisa difungsikan sebagai taman ,” imbuhnya.

Halaman
12
Penulis: Rusna Djanur Buana
Editor: murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help