Pembangunan Breakwater Pulau Pramuka Ditargetkan Rampung Desember

Ditargetkan, pembangunan breakwater akan selesai akhir tahun ini, tepatnya pada bulan Desember.

Pembangunan Breakwater Pulau Pramuka Ditargetkan Rampung Desember
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Panjang breakwater yang dibangun di Pulau Pramuka mencapai 426 meter dimana biaya pembangunan breakwater berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) senilai Rp 13 miliar. 

PROSES pembangunan breakwater atau pemecah gelombang di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu ditargetkan rampung pada bulan Desember mendatang.

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kepulauan Seribu, Ahmad Saiful mengatakan pembangunan breakwater di sepanjang pantai timur Pulau Pramuka sudah dimulai sejak bulan Juli kemarin.

“Sekarang ini progres pengerjaan breakwater di Pulau Pramuka kurang lebih sudah mencapai sekitar 30 persen,” kata Saiful, Selasa (18/9/2018).

Menurut Saiful, panjang breakwater yang dibangun di Pulau Pramuka mencapai 426 meter dimana biaya pembangunan breakwater berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) senilai Rp 13 miliar.

“Ditargetkan, pembangunan breakwater akan selesai akhir tahun ini, tepatnya pada bulan Desember mendatang, sesuai dengan kontrak,” ungkapnya.

Lurah Pulau Panggang Yuli Hardi menambahkan kebutuhan breakwater di Pulau Pramuka sangat penting untuk menahan terjangan ombak dan abrasi. Apalagi abrasi di Pulau Pramuka kondisinya sudah memprihatinkan.

“Apalagi kalau lagi angin timur udah nyampe, ombaknya parah. Kalau ombak kan ngambil, baliknya ngambil pasir. Ini cara instan untuk menahan abrasi dan ombak,” ungkap Hardi.

“Cara bagus pakai karang tapi itu kan cara alam. Sekarang kan karang banyak yang rusak, dan kalau transplan karang juga agak lama waktunya,” ungkapnya.

Hardi menuturkan selama ini pihaknya mengandalkan batu dan terumbu karang untuk menahan terjangan ombak. Namun seiring berjalannya waktu, kondisinya sudah tidak lagi mampu menahan sehingga menimbulkan abrasi.

“Dulu sih masih bagus karangnya, terumbu karang juga, ketahan lah. Tapi makin lama makin rusak terumbu karangnya. Jadinya jebol pertahanannya, makanya harus ditahan pakai breakwater,” katanya.

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved