Seorang Penyebar Berita Hoax Mengaku Dapat Video dari Grup Relawan Satu Pasangan Pilpres

Brigjen Rachmad Wibowo mengatakan para pelaku memperoleh berita bohong melalui grup Facebook juga WhatsApp.

Seorang Penyebar Berita Hoax Mengaku Dapat Video dari Grup Relawan Satu Pasangan Pilpres
tribunnews
Ilustrasi Hoax 

Polisi telah mengamankan setidaknya empat penyebar video hoax terkait kericuhabln di depan Gedung Mahkamah Konstitusi saat demo mahasiswa pada Jumat (14/9/2018).

Mereka berinisial SA, GG, MY dan NG.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Rachmad Wibowo mengatakan para pelaku memperoleh berita bohong melalui grup Facebook juga WhatsApp.

Seperti GG yang mengaku memperolehnya dari grup WhatsApp yang merupakan relawan salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pilpres 2019 mendatang.

Tanpa mengkonfirmasi berita, GG langsung mengunggah video itu di akun Facebook miliknya.

"FB atas nama Wawan Gunawan. Konten ini telah dikomentari 312 kali dan 5.400 kali dibagikan, dengan jumlah pertemanan akun tersangka 2.138 akun," ujar Rachmad dalam keterangan tertulisnya, Senin (17/9).

Sedangkan SA, tersangka yang pertama kali diamankan polisi di daerah Jakarta Selatan menggunakan akun Facebook atas nama 'Syuhada Al Aqse' dimana konten tersebut telah dikomentari sebanyak 5.200 kali dan dibagikan sebanyak 98.000 kali.

Untuk tersangka MY dengan menggunakan akun Facebook atas nama 'Doi' dengan memperoleh video itu dari grup Facebook yang memiliki anggota sebanyak 115.072 akun.

Terakhir, pelaku NG menggunakan akun Facebook atas nama 'Nugra Ze'. Ia memperoleh video dari grup WhatsApp dan tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, langsung diunggah di akun Facebook-nya yang memiliki 1.557 pertemanan.

Konten tersebut telah dikomentari sebanyak 97 kali dan dibagikan sebanyak 30.000 kali.

Rachmad mengimbau kepada masyarakat agar dapat menyebarkan berita, narasi ataupun deklarasi positif terkait pemilu 2019 yang aman, damai dan tertib.

Hal itu demi menghindari konflik horizontal berupa permusuhan, kebencian ataupun tindakan penghinaan yang berpotensi menimbulkan bentrok antar kelompok pendukung.

"Tindakan yang dilakukan pihak kepolisian sudah sesuai dengan prosedur, dan viralnya hashtag #mahasiswabergerak dan berita bohong tentang Presiden Joko Widodo merupakan tindak pidana yang dapat diproses secara hukum," katanya. (abs)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved